BUKAN MAHASISWA

https://www.tokopedia.com/khosasi/topi-jaring-kata-kata-murah-bukan-mahasiswa

Jika boleh sedikit saja saya akan mengajak pembaca yang budiman untuk melihat gerakan mahasiswa 1966 yang dianggap sebagai gerakan paling fenomenal dalam sejarah gerakan mahasiswa Indonesia pasca-kemerdekaan. Gerakan tersebut dianggap mampu mengaktualisasikan secara tepat apa yang menjadi tuntutan rakyat saat itu. Melalui tiga tuntutan rakyat atau Tritura, mahasiswa 1996 mendapat dukungan penuh dari rakyat untuk menggerakkan reformasi yang berujung pada jatuhnya penguasa orde lama.

Kemudian kita lihat pergerakan mahasiswa saat ini dengan segala bentuk eksistensinya di dalam kampus maupun diluar kampus, juga dengan segala problematika yang terjadi dalam tubuh pemerintahan dan masyarakat kita, yang menganggap permasalahan politik dinegara ini bukan menjadi urusan mereka di kampus.

Memang tugas utama mahasiswa dikampus adalah belajar, tetapi jangan lupa juga dengan tugas utama mahasiswa adalah penyambung lidah rakyat karna mahasiswa dianggap kaum terpelajar yang peka dengan segala hal yang terjadi dimasyarakat. Tetapi jika kita lihat saat ini berapa persen mahasiswa di kampus-kampus yang peduli dengan persoalan-persoalan diluar kampusnya atau didalam kampusnya, mereka yang berdiam diri pura-pura tidak peduli dengan masalah yang sedang melanda negeri ini pasti merasakan juga kerugian dari permasalahan secara umum. Singkatnya jika mahasiswa sekarang tidak bisa menjaga kepercayaan masyarakat maka dikemudian hari pasca kampus akan sulit untuk berbaur dimasyarakat.

Nampaknya pemerintah saat ini telah berhasil menerapkan Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK) kembali, yang dulu sempat menyumbat sikap kritis mahasiswa karna ditekan oleh aturan pemerintah melalui pihak kampus.

“Pemerintah adalah babu bagi rakyatnya” setidaknya saya pernah baca kalimat ini dalam buku yang ditulis oleh Cak Nun, yang intinya bahwa penguasa adalah kontraktor pembangunan yang diupah oleh rakyat, rakyat adalah bosnya, bukan malah sebaliknya seperti yang terjadi saat ini, rakyat sebagai bos malah dijadikan jongos oleh pelayannya sendiri. Kalau sudah seperti ini apa mahasiswa mau diam saja ? ikhlas menerima semuanya dengan lapang dada ? Terbaik memang !!!. Padahal saya yakin ketika BBM naik saja kita ambil contoh, makhluk-makhluk apatis ini pasti “ngedumel” minimal ngomong sendirilah merasa tidak terima dengan kebijakan pemerintah. Model manusia seperti ini memanh sulit dimengerti, ntah maunya apa dan maunya gimana.

Sungguh naif memang kalau kita membandingkan gerakan mahasiswa era dulu dengan sekarang yang memang sangat terpaut jauh masanya. Tapi tidak ada salahnya kita mengambil semangat aktivisme dan jiwa perjuang senior-senior kita terdahulu yang tetap memperhatikan urusan kampus dan masyarakat.

Terima kasih kepada para aktivis mahasiswa dan yang sampai saat ini terus bersemangat untuk menyuarakan kebenaran, kelak manusia-manusia apatis akan merasakan betapa perlunya sikap kritis. Bukan berarti saya menulis ini berarti saya adalah aktivis yang sudah sangat baik, tetapi harapannya dari tulisan ini kita bias sama-sama bertaubat berjama’ah agar menjadi aktivis mahasiswa yang ideal atau mendekati ideal dan menjalankan tugas sebagai aktivis mahasiswa yang semesetinya. Minimal ada rasa tidak enak dalam hati dengan keadaan dan permasalahan dilingkungan sekitar, jangan sampai Allah matikan hati kita untuk peka terhadap problematika yang ada, na’udzubillahi min dzalik.

Apakah gerakan mahasiswa mampu menempatkan ulang posisinya ditengah-tengah kemerosotan ? walau pada kenyataannya saat ini ternyata doktrinasi lebih kuat dari kritisme.

Dan akhirnya saya mohon ampun kepada Allah SWT. Jika tulisan saya ini menyimpang dari kebenaran, dan untuk dijauhkan dari sifat munafik.

Astagfirullahal’adzim lii wa lakum. Wallahu’alam …

Oleh : Wahid Ikhwan (Kadept Pengembangan Komisariat PD KAMMI Bandung 2016-2018)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*