Kekuatan Sosial Media

https://www.maxmanroe.com/mencoba-trik-marketing-kombinasi-media-sosial.html

Facebook kembali menjadi media menyampaian informasi yang sensasional, maksudnya adalah sebuah status di Facebook bisa menjadi viral atau pesan bersambung yang menjadi perhatian banyak orang yang menggunakannya. Kasus terbaru adalah status Nadine Naoko Rop pada 19 Februari lalu yang telah menjadi pesan bersambung karena di bagikan lebih dari 23 ribu kali di Facebook.

Sebagai salah satu sosial media yang mempunyai pengguna sekitar 1,5 Miliar orang di dunia tidak mengherankan jika sebuah status bisa menjadi hal yang mendapat perhatian pengguna Facebook di dunia. namun itu pun bila bersifat Humanis, statmen politis, atau aneh dan unik, misalnya dulu, ketika ada anak yang mengaku dari masa depan.

Namun Fenomena ‘Celotehan’ di mesia sosial yang menjadi sensasional bukan hanya milik Facebook semata, Twitter, Instagram dan beberapa media sosial lain pun mengalaminya. Di Twitter sendiri kita mengenal Trending Topic dengan simbol Hastag atau tagar sebagai tanda untuk sebuah peristiwa yang menjadi pembicaraan banyak pengguna sosial media berlogo burung ini.

Inilah salah satu kekuatan sosial media zaman ini, kecepatan informasi melalui internet membuat setiap orang mampu mendapatkan informasi dari hanya melihat sosial media yang ia miliki.

Kekuatan lainnya Sosial media mampu menjadi salah satu penyebab orang betah berlama-lama mengahabiskan waktu bersama internet baik di personal komputer atau telepon genggamnya. Sebuah  kajian  pada  tahun  2003  yang  dilakukan  oleh Harris Interactive and Teenage Research Unlimited untuk perusahaan media internet Yahoo! menemukan  bahwa  anak  muda  berusia  13  hingga  24  tahun  menghabiskan  lebih banyak waktu online setiap minggu dibandingkan dengan menonton televisi, yaitu 17 jam  banding  14  jam  (Hernandez,  2007).  Sedangkan  menurut  hasil  penelitian  dari Yahoo!-TNS  Net  Index,  di  Indonesia  penetrasi  internet  tertinggi  pada  segmen penduduk  usia  15  hingga  29  tahun  yaitu  sekitar  64%  dan aktivitas internet yang paling sering dilakukan adalah membuka sosial media dengan persentase 58% (Sodikin,  2009).

Dan sebuah kecendrung tersendiri bagi manusia yang di buktikan oleh Mark Zuckerberg melalui Facemash.com sebuah situs yang dibuat untuk membandingkan satu poto dengan poto lain yang lebih cantik. Sebelum kemudian Mark membuat Facebook.

Menunjukan kecendrung Aneh Manusia

Sosial media dengan segala fitur yang memudahkan dan nyamannya membuatnya menjadi rumah digital bagi sebagian orang. Ada yang tak lagi malu menampilkan status mesra, marah, sedih, senang dan sebagainya atau mengunggah poto dari yang begitu sopan dan biasa hingga yang jijik, tragis dan erotis. Namun ada juga yang begitu privat dengan tidak mengizinkan teman atau mengikutnya melihat apa yang ia tulis di sosial media.

Pada dasarnya, setiap orang memiliki langkah-langkah khusus dalam mempresentasikan dirinya kepada orang lain. Dalam karyanya berjudul The Presentation of Self in Everyday Life , Erving Goffman (1959) menyatakan bahwa individu, disebut aktor, mempresentasikan dirinya secara verbal  maupun non-verbal kepada orang lain yang berinteaksi dengannya. Presentasi diri atau sering juga disebut manajemen impresi ( impression management ) merupakan sebuah tindakan menampilkan diri yang dilakukan oleh setiap individu untuk mencapai sebuah citra diri yang diharapkan. Presentasi diri yang dilakukan ini bisa dilakukan oleh individu atau bisa juga dilakukan oleh kelompok individu/tim/organisasi (Boyer, dkk, 2006).

 

Sosial Media untuk Politik

Tahun 2014 merupakan tahun yang luar biasa sangat mencekam untuk dunia cyber Indonesia. Indonesia terpecah menjadi dua kelompok karena sebuah kompetisi pemilihan orang nomor satu di negeri ini. Joko Widodo dan Prabowo menjadi pembicaraan dan head line setiap media, karena dua tokoh inilah calon presiden republik ini selama lima tahun kedepan.

Inilah tahun politik dimana pertama kali hanya ada dua pasang calon yang maju menjadi presiden Indonesia, publik mau tak mau harus memilih salah satu atau golput. Pemilu tahun 2014 adalah pemilu yang spesial karena tahun ini dari data data KPU, 186.612.255 orang penduduk Indonesia yang menjadi pemilih dan 20- 30 % nya adalah pemilih pemula yang pertama kali akan memilih pada tahun ini.

Secara psikologis, Pemilih Pemula memiliki karakteristik yang berbeda dengan orang-orang tua pada umumnya. Pemilih Pemula cenderung kritis, mandiri, independen, anti status quo atau tidak puas dengan kemapanan, pro perubahan dan sebagainya. Karakteristrik itu cukup kondusif untuk membangun komunitas pemilih cerdas dalam pemilu yakni pemilih yang memiliki pertimbangan rasional dalam menentukan pilihannya. Misalnya karena integritas tokoh yang dicalonkan partai politik, track record-nya atau program kerja yang ditawarkan.

Pada tahun itu pula kecendrungan akan sosial media pada anak muda sedang sangat gandrung-gandrungnya, smartphone sebagai device terbanyak digunakan untuk mengakses menjadi salah satu faktor sosial media begitu dekat dengan keseharian.

Potensi inilah yang kemudian disadari oleh salah satu calon presiden pada saat itu, untuk kemudian membuat sebuah jaringan yang disebut JASMEV atau Jokowi Ahok Sosial Media Volunteer yang di buat tahun 2012 untuk pilkada DKI Jakarta. Namun digunakan kembali dengan lebih masif pada pemilu 2014. Jaringan ini terkoordinir dengan baik di sosial media untuk menghimpun dukungan dan menyebarkan visi misi, kegiatan serta kampanye Jokowi secara luas, dengan kemudahan berbagi ala sosial media pesan kampanye pun tersebar sangat luas jangkauannya. Membuat persepsi serta opini terhadap Jokowi menjadi begitu sangat merakyak dan menjadi harapan baru.

Di Mulai nya Era Pencitraan

Kita kembali perlu mempelajari bagaimana Jokowi bisa menjadi ikon dari tokoh desa yang menjadi pejabat publik. Data dan fakta terkait dengan kinerjanya memang kurang baik, yang kontra dengannya juga banyak, namun masih banyak yang menggap Jokowi bisa merubah Indonesia. semua kembali pada citra yang dibuat tim pencitraan dan media yang terus memblow-up Jokowi sebagai harapan.

Hal ini juga yang menjadi sebuah tren baru dalam kegiatan politik diberbagai tingkatan, tidak terkecuali di kalangan mahasiswa dalam perbutan kepemimpinan di tataran kampus. Di beberapa kampus tren menghimpun dukungan dengan sosial media menjadi salah satu media kampanye yang cukup efektif, dengan desain grafis yang menarik poto calon ketua BEM pun menjadi amat menarik. Sebuah gejala politik yang cukup baik berkembang untuk generasi pemimpin di masa depan.

Namun tren ini pula memberikan ancaman yang cukup berbahaya, jika pencitraan yang dilakukan hanya sekedar untuk menarik perhatian tanpa kontribusi kongkrit. Hal ini hanya akan menimbulkan kebohongan publik yang terus berlanjut dan tidak menyelesaikan permasalahn yang ada.

Oleh : Wawan Maulana (Bendum KAMMI Bandung 2016-2018)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*