Belajar dari Abu Dzar Al-Ghifari

http://www.islamaktual.net/2015/12/sahabat-rasulullah-sebagai-generasi.html

Di kutip dari buku yang berjudul “60 Sirah Sahabat Rasulullah SAW” karya Khalid Muhammad Khalid halaman (43-44) bagian 3 tentang Abu Dzar Al-Ghifari.

Ketika terjadi perang tabuk 9 H. Rasulullah menyuruh kaum muslimin bersiap menghadapi pasukan Romawi yang mulai menyerang wilayah Islam. Saat itu musim paceklik. Jarak yang akan ditempuh sangat jauh dan musuh pun sangat kuat. Sejumlah orang minta izin tidak ikut berangkat dengan berbagai alasan.

Rasulullah dan pasukan Islam berangkat. Jauhnya perjalanan menambah lelah dan sulit. Tidak sedikit anggota pasukan yang tertinggal dari rombongan. Setiap ada seseorang yang tertinggal, mereka mengadu ke Rasulullah, “Ya Rasul, si fulan tertinggal.” Beliau menjawab, “Biarkanlah. Jika dia membawa manfaat, Allah pasti akan membawanya bergabung dengan kita. Jika tidak, maka Allah telah meringankan kita.”

Pada suatu saat, mereka melihat-lihat pasukan, ternyata mereka tidak menemukan Abu Dzar. Maka mereka berkata kepada Rasulullah saw., “Abu Dzar tertinggal, keledainya sulit berjalan.”

Rasulullah menjawab dengan jawaban yang sama.

Memang keledai Abu Dzar tidak begitu kuat. Apalagi ditambah jauhnya perjalanan, kehausan, dan terik matahari yang sangat panas.

Abu Dzar sudah berusaha dengan berbagai cara agar keledainya mau berjalan tapi tidak berhasil.

Kalau begitu, Abu Dzar bisa ketinggalan rombongan, maka ia turun dari keledai. Ia panggul perbekalannya. Ia meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki, di tengah sahara yang sangat menyengat. Ia berjalan agak cepat agar bisa menyusul rombongan Rasulullah.

Menjelang pagi hari, ketika rombongan pasukan mulai menghentikan perjalanan dan beristirahat, tiba-tiba seorang dari anggota rombongan tiba-tiba seorang dari anggota rombongan melihat dari kejauhan kepulan debu yang membayangi sesosok manusia. Ia melapor ke Rasulullah, “Ya Rasulul, laki-laki itu berjalan sendirian.”

Rasulullah bersabda, “Mudah-mudahan orang itu Abu Dzar.”

Mereka melanjutkan pembicaraan sambil menunggu pendatang itu mendekat, agar bisa dikenali.

Orang itu semakin dekat, langkahnya bagai disentakkan dari pasir lembut yang membara, sementara beban dipunggung bagai menyelimuti tubuhnya. Namun ia tetap gembira karena berhasil menyusul Rasulullah dan saudara-saudara seperjuangan.

Ketika sudah bisa terlihat oleh anggota pasukan yang berada di ujung rombongan, ada yang berseru, “Ya Rasulullah, demi Allah, dia adalah Abu Dzar.”

Abu Dzar langsung menuju ke tempat Rasulullah beristirahat.

Ketika melihat kedatangan Abu Dzar, Rasulullah langsung tersenyum gembira, “Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada Abu Dzar. Ia berjalan sendirian, mati sendirian dan dibangkitkan sendirian.”

Kisah ini menjadikan pelajaran yang sangat berarti bagi kita yang mengaku sebagai aktivis Dakwah, bagaimana seorang Abu Dzar yang memiiki Giroh yang sangat tinggi untuk perjuangan Dakwah yang ketika itu unta yang ditungganginya tidak mau berjalan hingga beliau tertinggal dari rombongan. Tapi apa yang beliau lakukan? Apakah beliau mundur dari pasukan? Apakah beliau menyerah dengan kondisi yang sedang terjadi? Apakah beliau mengurungkan niatnya untuk agama Allah?. Tidak. Beliau kemudian turun dari keledainya dan membawa perbekalannya lalu berjalan agak cepet untuk menyusul rombongan.

Ketika dalam diri seoarang aktivis dakwah telah tertanam keyakinan yang kuat akan pentingnya perjuangan di jalan dakwah ini, maka, apapun yang mengahalangi tidak akan menjadi penghambat langkahnya untuk memperjuangkan nilai-nilai yang telah Allah gariskan.

Dia mencintai gerakan hanya karena Allah, sehingga halangan yang menghadang tidak bernilai karena balasan yang Allah janjikan untuknya lebih besar. Itulah aktivis dakwah, yang mengorbankan jiwa dan raga nya hanya untuk Allah, Rasul dan tegaknya Islam di muka bumi

Jika kita melihat kondisi hari ini, bagaimana perjuangan kita untuk dakwah ini? Sudah sampai seperti Abu Dzar Kah? Sudah mendekati Giroh Abu Dzar Kah?, ataukah kita masih sering mengeluh dengan tugas dakwah ini? Ataukah dakwah kita jadikan alasan sebagai penghambat aktivitas kita? Ataukah kita sering melalaikan waktu kita untuk tugas dakwah ini? Jika iya, maka mari kita ber istighfar semoga Allah mengampuni dosa kita sehingga kita tidak berat untuk berkorban dan berjuang di jalan dakwah ini. dan memohonlah kepada Allah, agar Allah memilih kita untuk menjadi bagian orang-orang yang Allah Rahmati sehingga kita disibukkan di jalan dakwah, jalan yang Allah Ridhoi.

Oleh : Junai (Ketum Komsat UPI 2017)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*