Kronologi dan Penjelasan Deskriptif Keadaan Bangsa

Kerapuhan disegala aspek

Indonesia telah rapuh dari pondasinya. Sistem perekonomian kapitalisme yang bermoduskan ekonomi pancasila telah meracuni ideology bangsa. Factor ekonomi sangatlah berkorelasi dengan politik. Kemakmuran suatu Negara diukur dengan tinggi rendahnya tigakat pertumbuhan ekonomi. Krisis moneter pada tahun 1998 menjadikan pukulan yang amat pedih bagi Negara. Semua itu pasti ada sebabnya.

System pemerintahan yang otoriter dengan penguasa yang terkenal diktaktor pada zaman tersebutlah yang menjadi dalangnya. Saat itu Indonesia bukan Russia dan tiongkok yang semua kegiatan bangsa dikekang oleh seorang penguasa. Rezim yang sangat kejam itupun tumbang dengan berbagai tuntutan. Tuntutan akan kemakmuran Negara dan kesejahteraan bangsa.

Sekali lagi, Indonesia bukan kawasan Arab spring yang bahkan setiap harinya masyarakat meminta akan kesejahteraannya terwujud. Reformasi memang telah terjadi di Indonesia, namun apakah janji dan tujuan reformasi itu sudah dapat mencapai titik puncaknya?. Belum! Reformasi belum tertuntaskan dan belum dituntaskan. Indonesia dulu dan sekarang masih dikatakan proses yang tak kunjung progeressif.

Sang pemimpin yang dirindukan Indonesia belum pernah ditemukan. Entah dia tidak ada atau dia hilang, entah dia tersesat jauh atau tak bisa kembali pulang, entah dia sudah tak bisa berjalan atau dia dia sengaja diturunkan.

Presiden jenius itu sangat dirindukan oleh orang yang mengetahui keadaan bangsa. Dan dia juga banyak dihina karena hanya berapa tahun dalam jabatan yang singkat. Indonesia butuh penggerak disegala aspek. Pemimpin yang benar benar memimpin bukan pemimpin namun tak memimpin.

“Peradaban selalu bermula dari gagasan. Peradaban besar selalu lahir dari gagasan gagasan besar. Dan gagasan-gagasan besar selalu lahir dari akal-akal raksasa”- M Anis Matta.

 

Musuh rakyat dan musuh Penguasa

Krisis kepemimpinan sebenarnya sudah terjadi di Indonesia sejak dahulu. Diktaktor lama pergi, diktaktor baru datang. Koruptor lama hilang, koruptor baru muncul lagi. Begitu terus siklus pemerintahan di Indonesia. Masih banyak yang harus dibenahi dan masih jauh dari kata baik bahkan sempurna.

Pemimpin yang tidak memimpin istlah baru dalam sejarah kepemimpinan Indonesia. Demokrasi hampir runtuh akibat aktor didalamnya sangat nafsu akan kefanaan dunia tanpa memperhatikan nasib rakyatnya.

Pemimpin jadi paranoid untuk rakyat. Ketakutan dan rasa jera yang diderita rakyat seakan tak mempercayai lagi pemimpin-pemimpin bangsa. Janji tinggallah janji. Itu adalah mindset yang ditanamkan oleh rakyat didalam lubuk hatinya. Seakan putus asa dan selalu menerima kebijakan yang bahkan membuat mereka sengsara. Demokrasi di negri ini sekali lagi terancam.

Mungkin takkan adalagi aksi sebesar 1998 yang ingin menjatuhkan diktaktor itu. Beda halnya dengan sekarang. Pemimpin itu pintar bersembunyi dibalik tembok yang amat kokoh. Yang ditakutkan adalah, jika diktaktor tersebut kembali lagi layaknya seperti era sebelum reformasi.

Musuh rakyat pasti subjektif, yaitu pemerintah. Begitu pula sebaliknya, pemerintah memusuhi rakyat yang memusuhinya. Dibalik permusuhan tersebut ada pihak yang memproteksi dua hal ini. namun, proteksi yang diberikan oleh satu dan yang satunya lagi sangatlah berbeda. “musuh rakyat kuat karena sebesar apa daya rusaknya terhadap pemerintah, musuh penguasa adalah sehebat apa potensial yang dimiliki oleh lawan politiknya”.

Roda kepemimpinan penguasa kita masih lama, belum cukup 3 tahun sudah banyak keburukan keburukan yang terjadi. kita tunggu saja bagaimana pemecahan masalah akan hal ini. Butuh payung yang lebar agar hujan tidak mengenai badan. Butuh usaha yang amat sangat maksimal untuk mengungkap sampah yang telah lama berbau dan tak berguna ini. kejahatan yang ditakutkan jangan sampai timbul lagi. Cukuplah hanya sekali masa pemerintahan yang kejam. Rakyat sudah takut akan hal itu.

Usaha yang parsial akan menghasilkan hasil yang parsial pula, bagaimana usaha kita dalam mewujudkan Indonesia yang sehat adalah tergantung dari usaha kita yang maksimal. Mencari orang yang ingin menjadi pemimpin banyak. Namun, mencari pemimpin yang kelak memimpin perlu dikaji lagi. Dalam mewujudkan hal tersebut, langkah dan gerak kita adalah harus strategis dan terstruktur, rapi dan tak memiliki celah. Berisikan fikiran yang mempunyai tingkat kematangan pendapat.

Musuh rakyat sangat banyak yang haraus diberantasi. Hilang satu pasti tumbuh banyak lagi. Tak ada yang bisa dan berani menyelesaikannya. Cara demi cara telah dilakukan tetapi hasilnya nihil. Ini disebabakan karna strategi yang membabi buta. Islam itu universalitas bukan sempit. Jadi tak ada kata kebodohan jika sudah mempelajarinya,.

Tidak sedikit juga penguasa sekrang ini yang amanah dalam kerja. Namun presentasenya sedikit dibanding penguasa yang tidak amanah. Pembangunan yang gagal, proyek yang telat untuk jadinya. Itu disebabkan kebutuhan akan pemimpin yang jujur sangat dibutuhkan sekali di negri ini. tentunya parpol mempunyai kader unggulan dan saling diagung agungkan. Sebenarnya, Indonesia hanya kurang percaya dan kurang konsolidasi dalam memilih orang untuk menjadi peimpinnya.

Harakah dalam bentuk parpol adalah jalan yang bagus dalam memaksimalkan keinginan mencapai bentuk khalifahan di negri ini. rakyat harus bergerak serentak agar musuh-musuhnya lari berhamburan. Pemerintah sangat pintar mencari celah untuk keluar dari kesalahannya. Payung hukum hanya milik mereka yang berkuasa dan berada di tahta utama. Sekali lagi, inilah realita kehidupan bangsa kita.

Realita ini masih panjang dan ini bukan dongeng atau mimpi yang bisa saja sirna. Ini adalah dunia nyata yang pastinya akan sakit bila sengsara dan akan senang bila hati bahagia. Usaha dari sekarang merupakan hal yang baik dilakukan jika ingin Indonesia menjadi lebih baik dan lebih bisa mengayomi rakyat. Ke diktaktoran akan tumbang jika realita masyarkatnya kompak untk melakukan sesuatu.
Tidak takut akan bertindak dan bertindak pula dengan bersama sama agar kesengsaraan ini tidak berlangsung lama, agar penderitaan ini hanya sebentar saja dan bisa teratasi dengan kekompakan kita.

”Walaupun satu keluarga kami tak saling mengenal himpunlah daun-daun yang berhamburan ini hidupkan lagi ajaran saling mencintai ajari lagi kami berkhidmat seperti dahulu”- M Annis matta

Cara menenangkan Hati Rakyat

“Partai-partai politik harus dapat menjaga kesatuan bangsa dan kehormatannya serta memperjuangkan kemerdekaan negeri dengan harta, jiwa, dan usaha”- Hassan Al Banna.

Dari perkataan imam Hassan Al Banna dapat disimpulkan bahwa tidak harus adanya rasa fanatisme dalam sebuah partai, yang pada akhirnya akan merendahkan parpol-parpol lain. Seringlah berkonsolidasi dan bekerja sama dengan parpol dengan tujuan utama yaitu bisa terjadinya NKRI yang utuh dan semestinya.

Tidak adanya permusuhan antara satu politisi dan politisi lain. Tidak saling membanggakan dan lain sebagainya. Karna parpol hanyalah wadah dan bukan untuk tujuan. Tujuannya adalah menjadikan Indonesia yang merdeka seutuhnya dengan realita dan fakta. Parpol adalah wadah terbaik yang akan bisa menjadi wadah bagi para penggerak perubahan.

Mindset masyarakat sekarang menilai bahwa “politik itu kotor”, dan umat islam serta kader dakwah dilarang untuk berpolitik. Mindset-mindset seperti ini wajib kita sebagai kaum intelektual meyakinkan mereka akan pentignya parpol untuk menduduki jabatan-jabatan tertinggi. Dengan jabatan kita bisa menyebarluaskan kebaikan-kebaikan. Masyarakat selalu beropini buruk tentang politikus dan kader partai. Oleh karenanya berilah tindak nyata jika kita benar ingin membentuk Negara Indonesia yang merdeka dan berdaulat.

Ambil saja contoh di desa yang bisa dikatakan bahwa masyarakatnya tradisional dan semi primitive, yang sering mengatakan bahwa jika ada politisi islam maka dia adalah kafir. Ini yang wajib diluruskan. Kadang kader parpol bertindak tidak begitu senonoh. Contoh, malah memaki dan berkata kasar kepada penduduk desa tersebut dengan alasan terbawa emosi dan cara itu yang paling jitu untuk meyakinkan masyarakat. Bersifatlah lembut, karena islam mengajarakan kelembutan dan kasih sayang kepada sesame.

Hati masyarakat tidak dapat ditipu, jika ia tersakiti maka ia akan mengatakan yang semestinya. Sebagai kaum intelek, kita patut memahami terlebih dahulu bagaimana penyelesaian masalah tersebut dan jangan terpancing dengan emosi dan membabi buta karna itu bukan tindakan yang berwibawa (izzah). Masyarakat akan percaya jika para politisi memberikan aksi nyata dan menguntungkan untuk mereka. Mereka menunggu hasil dan keuntungan apa yang didapat ketika mempercayai kata-kata dari politisi yang berbicara. Apakah benar dan baik ataupun dusta dan hanya janji.

Setelah kita bisa menenangkan hati masyarakat, maka mulailah kita dapat menjalin kerjasama dengan mereka. Missal, ketika pilkada nanti calon gubernur dan wakil gubernur apabila telah dapat simpati dari masyarakat, kemungkinan besar masyarakat tersebut memilihnya pada saat pilkada nanti. Wallahualam.

Mulailah bergerak secara strategis dan penuh dengan usaha serta ikhtiar aga usaha menmenangkan pilkada itu bisa kita capai. Hati rakyat tak bisa dibohongi. Ketika mereka suka dengan calon pemimpinnya, maka pasti ia tidak berpaling dari yang lain. Rayat perlu pendekatan dan ajakan secara kekeluargaan. Itulah cara ampuh untuk mempraktekkan politik bersih.

Salah satu komponen yang membuat masyarakat ingin memilih calon pemimpinnya, ialah ketika calon pemimpin tersebut mampu bertindak secara persuasive kepada objeknya atau masyarakata tersebut. Salah satu keberhasilah jokowi menjadi prmimpin adalah ketika ia berani langsung turun ke lapangan untuk memebersikan sampah dan lain-lainnya. Kegiatan ini membuat decak kagum masyarakat kepada calon pemimpinnya. Didalam mindset mereka pasti terlintas kekaguman, takjub dan heran mengapa sang calon pemimpin melakukan kegitan itu.

Jangalah kalian menyepelekan kebaikan sedikitpun walaupun hanya sekedar memberikan senuyuman keapada saudaranya” HR MUSLIM

Kutipan hadits di atas menyatakan dengan jelas bahwakita harus memperhatikan sikap-sikap kita yang mikro sebelum yang makro. Dengan cara kecil saja kita bisa menenangkan hati sesame. Dengan kata lain, calon pemimpin yang membuat hati masyarakatnya tenang adalah seorang pemimpin yang masih memperhatikan hal-hal kecil bagi masyaraktnya. Calon pemimpin yang baik segeralah bertindak demikian dan progressif dalam melakukannya.

Masyarakat sudah memiliki persepsi masing-masing dalam menilai calon pemimpinnya. Entah itu layak dan baik, atau buruk namun tak layak. Jika baik dan layak, tak menutup kemungkinan calon pemimpin tersebut dipilih oleh masyarakat. Namun jika tak layak dan tak baik, sudah pasti masyarakat tidak memilihnya. Kecuali ada faktor lain yaitu ‘uang’. Masyarakat sedikit kesulitan mencari pemimpin yang seperti ini dan kalau memang ada pasti sedikit.

Demokrasi tak lebihnya seperti “satu suara tukang parker sama halnya dengan suara professor”. Tak ada pembeda tingkat kepintaran dan taraf hidup. Tetapi jumlah satu orang sama halnya dengan oang lain. Dekati masyarakat yang kecil dulu baru beranjak ke masyarakat yang besar.

Calon pemimpin yang pantas

“Konstantinopel akan jatuh ditangan seorang pemimpin yang sebaik-baik pemimpin, tentaranya sebaik-baik tentara, dan rakyatnya sebaik-baik rakyat” HR Ahmad.

Pemimpin yang pantas adalah pemimpin yang berusaha memantaskan diirnya. Butuh perjuangan untuk mengkarantina sifat kepemimpinan kita. Sulit menemukan hal yang didambakan rakyat didalam sifat calon pemimpin. Mungkin pemimpin yang baik itu sudah tiada dan memang tak pernah ada.

Menjadi calon pemimpin siap akan mati dibunuh, mati difitnah dan mati dengan tuntutan ideology. Kulafa rasyidin yang ketiga dan keempat saja mereka mati pada saat menjbat sebagai khalifah. Itu tandanya, masih ada saja orang yang benci terhadap kepemimpinan khalifah yang tingkatan amalannya yang di atas rata-rata.

Sifat yang harus dimiliki pemimpin juga harus sabar dalam menghadapi kendala-kendala dalam kepemimpinannya. Kendala adalah hal yang tak bisa dilepas dari kepemimpinan seseorang. Ada saja konflik suatu kaum pada saat masa kepemimpinan Ali bin abi thalib. Perpecahan dimana-mana dan yang hars bisa menyelesaikannya adalah pemimpin. Oleh karena itu pemimpin harus mempunyai sifat yang amat sabar dalam menghadapi konflik kolektif didalam bangsa. Entah itu datang nya dari dalam atau dari luar lingkungan kepemimpinan.

Sifat yang harus dimiliki oleh pemimpin selanjutnya adalah merealisasikan apa visi utamanya dalam menajlankan roda pemerintahan ini biar tidak adanya persepsi akan janji palsu didalam fikiran masyarakat. Contohnya saja nawa cita yang tak terealisasikan dan alhasil membuka fikiran mahasiswa untuk memberontak, walaupun pemberontakan ini tak sebesar tragedy trisakti. Harus bisa berpegan teguh pada prinsip dan konsisten dalam melakukannya agar semua itu bisa berjalan.

Memahami factor internal dan eksternal teretorial wilayah kepemimpinannya dengan komprehensif. Memaknai suatu masalah dengan tegas. Maka masalah-masalah itu bisa di atasi dan terselesaikan oleh karena itu pola fikir pemimpin seperti inilah yang dinilai baik. Kompeten dalam melakukan sesuatu agar semua bentuk pekerjaan mudah terselesaikan dalam waktu yang sudah diinginkan. Berusaha keras mewujudkannya walaupun hal tersebut banyak hambatan dan rintangan.

Mempersiapkan diri dari sekarang dan mulai mempelajari kelemahan dan keburukan diri sehingga hal tersebut bisa dievaluasi dan dikoreksi lagi bagaimana penyelesaian dan bagaimana kita bisa lari dan meninggalkan kelemahan tersebut. Selalu intropeksi diri karna selalu melihat keatas juga buruk untuk diri sendiri. Jangan terlalu meninggi dan harus juga menjaga kualitas diri demi mempersiapkan diri ketikan menjadi seorang pemimpin. Kelemahan diri kita dapatkan apabila kita banyak melakukan kesalahan dan mencoba untuk memperbaikinya. Hal ini juga dapat dilakukan dengan meminta tanggapan orang lain akan keburukan-keburukan diri kita.

Langkah awal untuk mewujudkan pemimpin yang kompeten dan islami tentunya kita mencari dulu siapa yang sanggup untuk menyandangnya. Mencari orang ini perlu pula selektif. Jangan terburu-buru. Kapasitas seorang calon pemimpin yang akan dicalonkan dapat dilihat dari parpolnya. Biasanya parpol yang lebih identik dengan keislaman lebih bisa diunggulkan daripada parpol yang berlatar belakang biasa saja. Hanya saja mereka sudah dikenal banyak kalangan masyarakat.

Dapat pula dicari seorang pemimpin seperti ini dengan tenaga ahli namun bukan kader partai tertentu. Reputasi orang yang seperti ini yang banyak diminati oleh masyarakat kita. Dia sudah memiliki kemampuan dan skill yang bisa mencukupi kinerejanya sebagai pemimpin jika ia dipilih menjadi pemimpin. Orang seperti ini bisa disebut juga orang yang memiliki presatasi dan prestasi-prestasinya tersebut diketahui oleh masyarakat sehingga bisa dikatakan calon pemimpin seperti ini bisa menjanjikan dan bisa juga meyakinkan hati masyarakat itu sendiri.

Bisa dikatakan, calon pemimpin yang baik dilihat darimana ia menjalani masa pendidikan (khususnya sarjana, magister, doctoral). Kampus yang ternama bisa juga membuat pendapat masyarkat akan dirinya baik karena nama besar kampus tersebut. Contohnya saja Ridwan Kamil yang tamatan ITB yang pada umumnya didalam pemikiras semua masyarakat Indonesia atau dibandung itu sendiri bahwa ITB adalah kampus yang baik dengan pasti juga lulusan yang baik. Beliau juga melanjutkan studi magisternya di AS, yang hal ini juga berdampak positif terhadap reputasi dan salah satu komponen yang bisa meyakinkan hati masyarakat.

Jika bisa dipilih lagi, kita bisa mencari kader parpol yang tentunya beragama islam. Kader parpol yang dimaksudkan pastinya sudah memiliki kepantasan dan kapasitas dirinya untuk memenuhi dirinya itu sendiri menjadi pemimpin. Jika kader partai, kemungkinan besar kemampuannya berpolitik dan manajmen semua hal bisa dikatakn baik karena sudah terbisasa dengan kultur organisasi dan pastinya ketika dicalonkan dia sudah tidak canggung dan tidak binung dengan apa yang akan ia kerjakan.

Calon pemimpin harus memiliki rasa kasih sayang keapda masyarakat pada saat sebelum dan sesudah ia menjadi pemimpin. Bukan yang hanya mengumbar janji NAWACITA namun janji tersebut sampai sekarang belum juga terpenuhi. Memang, pemimpin dapat kita lihat setelah ia berhasil menduduki jabatannya sebagai pemimpin. Barulah kita dapat menilai seperti apa kualitas dirinya tersebut. Semua hal yang dilakukannya sebelum menjaabat sebagai pemimpin ia akan terlihat seberapa seringnya ia berbaur dengan masyarakat dengan menanamkan nilai kasih sayang.

Realitas masyarakat sekarang ia memilih pemimpin tidak melihat dari agamanya sendiri, dan hanya melihat dari segi cara kerja, hasil kerja dan janji yang ditepati. Oleh karena itu, sebagai calon pemiminpin, yakinkanlah hati masyarakat, bahwa diri untuk menjadi pemimpin itu siap melakukan hal-hal yang diinginkan masyarkat.

Oleh : Budi Kusuma Handoko (Ketua Umum KAMMI Unpas)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*