Perbedaan Musyawarah dan Demokrasi

Sumber : http://www.diplomacypakistan.com/articles/the-importance-of-religion-in-politics/

Musyawarah dan Demokrasi memiliki perbedaan yang mendasar secara fundamental. Sehingga keduanya tidak sama dan tidak boleh disamakan. Musyawarah merupakan bagian dari kegitan yang sering di lakukan oleh Rasulullah, mengapa Rasulullah sering melakukan itu? Karena perintah untuk bermusyawarah itu ada dalam Al –Quran, yaitu dalam surat Al-Imron ayat 159 “Maka berkat rahamat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohokanlah ampun untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apa bila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh Allah mencintai orang yang bertawakal” .

Ini lah indahnya perintah Allah, dan tidak mungkin Rasulullah tidak melaksanakan yang Allah perintahkan. Dan tidak akan di ragukan lagi jika kita memiliki seorang pemimpin yang bermusyawarah sesuai dengan perintah Pencipta-NYA. Sedangkan demokrasi merupakan ajaran barat , yang sebenranya jika membahas tentang musyawarah, dasar negera kita yaitu Pancasila juga terdapat hal yang membahas tentang musyawarah yang tertuang dalam pancasila ke empat yang berbunyi “ Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah, kebijaksanaan dalam permusyawartan perwakilan “. Contoh pelaksanaan sila ke empat ini adalah saat pemilu yang kita sebut dengan demokrasi, namun menurut saya pemilu di Indonesia bukan sebuah musyawarah. Mengapa ? karena banyak unsur yang ada dalam pemilu itu sendiri. Unsur apakah itu ? saya yakin semua warga indonesia sudah tahu seperti apa kondisi pemilu negeri ini. Seperti judul di atas yang sedang kita bahas adalah tentang perbedaan musyawarah dengan damokrasi, dan sekilas perbedaannya adalah :

Musyawarah bersumber dari wahyu ilahi sedangkan demokrasi bersumber dari akal insani. Karenanya aturan musyawarah sepenuhnya tunduk patuh kepada aturan Ilahi yaitu Syariat Islam, sedang demokrasi sepenuhnya tunduk kepada aturan akal yang tidak pernah luput dari kebenaran yang masih di pertimbangkan.
Musyawarah hanya boleh membenarkan yang benar dan menyalahkan yang salah sesuai dengan aturan syariat islam, sedang demokrasi bisa menyalahkan yang benar dan membenarkan yang salah tergantung mayoritas suara. Karenanya, dalam musyawarah tidak akan terjadi halalisasi yang haram atau haramisasi yang halal, sedangkan demokrasi sudah lumrah dengan halalisasi yang haram dan haramisasi yang halal.
Musyawarah membedakan antara si baik dan si buruk, sedang demokrasi menyamakan si baik dan si buruk. Karenanya, dalam musyawarah hanya orang baik, cerdas, dan berintegritas moral tinggi yang boleh berpendapat. Misal dalam setiap musyawarah Rasulullah selalu mengajak musyawarah kepada para ahli ilmu seperti Ali bin Abdul Mutholib dan para sahabat lainnya, mengapa ya karena bermusyawarah dengan orang yang mengerti dan paham akan menghasilkan hasil musyawarah yang memang untuk kebaikan umat tanpa memikikan kepentingan diri sendiri.
Standar kebenaran dalam musyawarah adalah akal yang berlandaskan syariat, sehingga musyawarah berdiri di atas hujjah (argumentasi), sedang standar kebenaran dalam demokrasi adalah akal yang bergantung pada voting (pemungutan suara), sehingga demokrasi hanya berdiri di atas hawa nafsu kelompok terbanyak. Karenanya, hasil musyawarah selalu menjadi putusan yang kuat, sedang putusan demokrasi sealu rapuh.
Musyawarah memberi peluang antara sikaya dan simiskin, sedang demokrasi melalui sistem “one man one vote” (satu orang satu suara) telah memberi peluang besar kepada sikaya untuk membeli suara simiskin. Karenanya, musyawarah selalu melahirkan pemimpin yang baik dan berkualitas, sedang demokrasi telah banyak melahirkan pemimpin yang korup, rakus dan serakah.

Oleh : M Ridwan Wildan MJS ( Anggota Dep KP UIN Bandung)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*