Sulaiman Al Qanuny atau Sulaiman ‘The Magnificent‘ — Khalifah Islam yang disegani oleh para raja Eropa (Bag-2)

Dari semua kisah sejarah sultan Sulaiman Al Qanuny terdapat satu yang sangat istimewa yaitu pertempuran MOHACS, sebuah pertempuran yang mengabadikan namanya di seluruh penjuru Eropa. Singkat cerita saat itu pada tahun 1526, Paus Clement VII di Vatikan memanggil seluruh pasukan Eropa untuk memerangi Sulaiman Al Qanuny dan memberikan penebusan dosa bagi setiap pasukan salib yang mengikuti perang ini berupa sebuah surat resmi gereja dengan tanda tangan Paus yang menjamin ampunan dosa bagi tentara salib dan kekekalan di surga selamanya. Maka terkumpulah pasukan terbesar di Eropa saat itu yang terdiri dari Kekaisaran Romawi yang mencakup Spanyol, Italia, Jerman, Austria, Belanda, Belgia, Swiss, dan Luxemburg ditambah sebuah wilayah luas di Perancis dan wilayah Eropa lainya. Kemudian kerajaan Hungaria yang meliputi Hungaris, Slovakia, Rumania, wilayah Serbia Utara, Kerajaan Bohemia (Rep. Ceko), Kerajaan Kroasia, Kerajaan Polandia, dan disertai pasukan kepausan juga tentara salib bayaran. Adapun Inggris, Portugal, Swedia, dan sebagian wilayah Perancis tidak bergabung dalam pasukan ini karena memilih bergabung dengan aliran Protestan sedangkan Perancis sedang dalam perjanjian damai dengan khalifah yang membebaskanya dari Spanyol. Singkatnya, kedua pasukan bersiap untuk melakukan peperangan di sebuah lembah di selatan Hungaria disebut dengan lembah MOHACS. Pasukan salib di mohacs dipimpin oleh sejumlah panglima terbaik dari Hungaria saat itu diantaranya raja Hungari Louis II dan Pal Tomori, seorang pastur yang memimpin pasukan untuk menebarkan semangat dalam jiwa mereka. Sementara pada sisi pasukan islam, terdiri dari tentara Turki Utsmani yang dilengkapi dengan sejumlah Meriam kuat yang sebelum itu jiwa – jiwa mereka dipenuhi oleh aqidah tauhid, terdapat pula satuan pasukan khusus Turki Utsmani yang disebut dengan Jenissary. Pasukan ini dipimpin langsung oleh Amirul Mu’minin Sultan Sulaiman Al Qanuny dimana saat itu dia memerintahkan untuk menghancurkan kekuatan musuh secara keseluruhan dan menarik total seluruh kekuatan sekutu lalu pendudukan ibu kota Budhapest. Di malam sebelum pertempuran Sultan menghidupkannya dengan shalat dan berdoa kepada Allah SWT untuk memberi kemenangan bagi muslim, begitu terus sampai fajar tiba. Beliau lalu memimpin shalat shubuh bersama pasukanya yang tangguh, usia shalat beliau lalu berdiri memandang segenap pasukanya dengan penuh rasa bangga lalu beliau berkata sambil tersenyum dan air matanya berlinang “Seakan aku disamping Rasulullah SAW dan beliau kini memandang ke arah kalian semua” saat itu pecahlah tangisan haru segenap pasukan lalu mereka memeluk satu sama lain berjanji untuk kembali berjumpa di surga dengan menggapai Syahid.

21 Dzulhijjah 932 H bertepatan dengan 29 Agustus 1526 M itulah hari terjadinya pertempuran mohacs yang agung ini. Pertempuran Mohacs dimulai dengan majunya pasukan salib ke arah kaum muslimin dan strategi sultan saat  itu ialah membiarkan musuh maju perlahan ke medan pertempuran sambil menarik masukan islam secara perlahan sampai musuh memasuki wilayah jangkauan tembak meriam Turki Utsmani. Dan benar saja, majulah pasukan salib ke arah pasukan islam yang kemudian dikejutkan dengan mundurnya pasukan islam. Pasukan Salib mengira kaum muslimin telah kalah dalam waktu singkat maka majulah pasukan salib bagaikan air bah tak terbendung dan saat itulah sultan memerintahkan kekuatan meriam Turki Utsmani untuk menyerang balik dan meluncurlah peluru – peluru meriam bagaikan bola api ke arah musuh. Seketika itu kacaulah barisan pasukan salib dan ketakutan mulai menyelimuti mereka setelah melihat berhasilnya strategi sultan Sulaiman walaupun ribuan pasukan muslimin syahid saat awal pertempuran. Disaat yang bersamaan bergeraklah sayap pasukan islam untuk mengepung mereka dari segala arah maka mundurlah pasukan salib dari medan pertempuran tanpa terkendali dan sebagian mereka ada yang tenggelam di sungai Danub. Diantaranya yaitu raja Hungaria Louis II termasuk komandan pasukan mereka seperti Pal Tomory. Usai sudah pertempuran dengan kemenangan mutlak untuk kaum muslimin setelah terbunuhnya 20.000 pasukan salib sementara yang syahid di pihak muslimin hanya 1500 pasukan saja. Mungkin sebagian dari kita heran dengan pendeknya kisah pertempuran ini, namun sungguh tidak ada penyingkatan kisah pertempuran ini karena memang pertempuran ini berjalan amat singkat yaitu hanya 90 menit saja bahkan lebih singkat dari pertandingan sepak bola masa kini. Satu hal yang harus selalu kita ingat bahwa kemenangan umat ini akan datang dari Allah SWT bahkan jika berkenhendak hanya dalam hitungan menit saja yang terpenting adalah adanya kesungguhan niat dan persiapan yang baik.

Sultan Sulaiman Al Qanuny tidak hanya mencukupkan di bidang militer saja, bahkan dia seorang penyair ulung dan menguasai sejumlah bahasa asing. Ia juga selalu memperbanyak shalat dan puasa dalam hidupnya beliau telah delapan kali menulis mushaf Al-Quran dengan kedua tanganya. Sultan Sulaiman juga khalifah utsmani pertama yang merenovasi Masjidil Haram, beliau juga yang mendirikan sebuah menara di Masjidil Haram yang dinamai ‘Menara Sulaiman Al Qanuny’ termasuk juga merenovasi Mesjid Nabawi dan Mesjid Al Aqsa. Salah satu peninggalan sultan yaitu sebuah mesjid megah yang dibangun oleh seorang arsitek besar Sinan Pasha, mesjid ini terletak di kota Istanbul dan disebut dengan nama Mesjid Jami’ Sulaiman.

              Mesjid Jami’ Sulaiman Al Qanuny

Mesjid ini dibangun dengan seni arsitektur yang sangat tinggi, salah satu keunikannya yaitu mampu memantulkan suara diantara kubah mesjid dimana berfungsi seperti sound system untuk mengeraskan suara di dalam mesjid. Alhasil suara imam di mimbar dapat didengar sampai bagian akhir mesjid dan itu ditemukan sebelum adanya teknologi mikrofon. Sultan Sulaiman lalu merumuskan sebuah undang – undang negara yang dikenal dengan ‘Qanun Sulaiman’ yang diambil dari syariah islam yang nantinya undang – undang ini akan menjadi asas bagi sejumlah undang – undang di Eropa. Karena jasanya yang besar maka kongres Amerika Serikat memberinya sebuah penghormatan dengan memahat gambar wajahnya di sebuah sisi bangunan kongres, ini merupakan sebuah pengakuan untuknya sebagai salah seorang negarawan terbesar dalam sejarah.

     Pahatan Sultan Sulaiman Al Qanuny

Dikala umurnya sudah mencapai usia 74 tahun datanglah kabar bahwa sejumlah wilayah islam mendapat gangguan dari kerajaan Austria, maka ia putuskan untuk menyerang dan menaklukan kota Wina. Namun karena sakit parah yang dideritanya ia dilarang untuk ikut berperang dalam pertempuran itu, tetapi ia menjawab nasihat itu dengan berkata ‘Sesungguhnya aku telah memohon kepada Allah untuk meraih syahid dengan wafat dalam perang di jalan-Nya’. Karena tak mampu bergerak lagi lalu ia ditandu oleh tentaranya hingga sampailah pasukan Turki Utsmani di sebuah benteng kokoh yang dikenal dengan nama benteng Szigetvar. Benteng tersebut terus dikepung selama lima bulan sementara keadaan Sulaiman semakin memburuk, dan saat sebagian pasukan mulai berputus asa seorang prajurit mendengar sebuah suara lirih dari dalam tenda Sultan Sulaiman yang berdoa kepada Allah dengan suara yang ditimpa sakit dan penuh ketawadhuan meminta kepada Allah untuk menolong kaum muslim dan mengirim api atas para musuhnya. Usai doa itu diucapkan tiba – tiba sebuah peluru meriam Turki Utsmani jatuh menimpa sebuah gudang mesiu musuh maka berubahlah langit Szigetvar menjadi gulungan api dan melalap seluruh bagian benteng. Maka majulah muslimin ke arah benteng dan menembusnya lalu diangkatlah bendera islam, bendera hilal Turki Utsmani diatas benteng musuh. Berhamburanlah prajurit memberitahu Khalifah dengan kabar gembira ini, mendengar itu Sultan kemudian tersenyum dengan senyuman yang indah lalu mengangkat pandanganya ke atas sambil berkata lirih “Alhamdulillah.. Inilah saat terbaik menyambut kematian.. Inilah saat terbaik menyambut kematian..” kemudian berhentilah suara itu dan berhentilah jantung itu. Itulah kisah hidup Sultan Sulaiman Al Qanuny yang penuh perjuangan, pengorbanan, dan penebusan jiwa. “Diantara para Mu’min terdapat sekumpulan orang yang memenuhi janji mereka kepada Allah dan Diantara mereka ada yang gugur dan ada yang menunggu (waktu Syahid itu) dan mereka tidak mengubah janjinya”.

Seorang sejarawan Jerman, Halmark menggambarkan pada hari kematian Sultan denga perkataanya “Sungguh sultan ini lebih berbahaya bagi kami dari Shalahuddin sekalipun” sementara sejarawan Inggris Harold Lamb berkata “Sungguh hari raya nasrani itu banyak, jika kau bertanya tentang yang paling agung maka sudah jelas itu adalah hari kematian Al Qanuny”. Disaat pengurusan jenazahnya orang – orang dikejutkan dengan wasiatnya untuk dikuburkan bersamanya sebuah kotak terkunci rapat, para ulama khawatir jika didalamnya terdapat harta perhiasan karena merusak harta dengan memendamnya adalah perbuatan yang dilarang syariat. Maka diputuskan untuk dibuka kotak itu dan setelah dibuka ternyata berisi tumpukan kertas fatwa para ulama karena sultan tidak pernah memutuskan perkara penting dalam hidupnya tanpa meminta pertimbangan ulama untuk mengetahui hukumnya dalam syariat. Usai melihat isi dari kotak tersebut menangislah salah satu mufti khilafah Turki Utsmani yaitu Abu Su’ud Afandi beserta semua yang ada diruangan itu kemudian dia berkata “Telah kau selamatkan dirimu wahai Sulaiaman, telah kau selamatkan dirimu wahai Sulaiman.. Langit manakah yang akan menaungi kami dan bumi manakah yang akan kami pijak jika ternyata fatwa – fatwa kami itu salah”.

Oleh : Ihsan Maulana (Staff Kaderisasi KAMMI Bandung 2016-2018)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*