Sulaiman Al Qanuny atau Sulaiman ‘The Magnificent‘ — Khalifah Islam yang disegani oleh para raja Eropa (Bag-1)

Sudah menjadi fakta bahwa umat muslim zaman sekarang hanya mengetahui sedikit saja dari rangkaian emas sejarah umat ini dan dari ‘sedikit’ yang  diketahui dan dipelajari di sekolah ini, sebagian besar telah diubah dan dipalsukan. Padahal umat ini memiliki sejarah yang sangat agung dan heroik, melintasi berbagai zaman kehidupan umat manusia tanpa terikat batas waktu dan tempat, menjelajahi berbagai negeri dari negeri Jepang di timur sampai Chili di barat dari kutub utara sampai ujung afrika selatan. Pada tahun 1844 seorang penulis asal prancis, Alexandre Dumas mengarang sebuah cerita khayalan berjudul ‘The Three Musketers’ yang mengisahkan 3 orang pegawai raja pecandu alkohol yang membantu sahabat mereka menyelesaikan tugas dari raja prancis, Louis XIII. Lalu Prancis menyebarkan cerita khayalan ini ke seluruh dunia dan menjadikan 3 orang pemabuk ini layaknya ksatria yang patut dikenang walaupun tidak ada nilai kepahlawanan sedikitpun.

                 Ilustrasi The Three Musketeers

Sementara itu 1200 tahun sebelum kisah khayalan ini, ada 3 orang ksatria muslim yang bergerak ke negeri Syam di utara dengan memimpin 3000 pasukan muslim untuk menghadapi imperium romawi yang sangat besar jumlah pasukanya yaitu sebanyak 200.000 tentara. Namun akhirnya pasukan islam berhasil meraih kemenangan gemilang nan agung yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah umat manusia, satu hal yang perlu diingat bahwa kemenangan itu dapat diraih setelah ketiga ksatria muslim tadi mengorbankan nyawanya bukan demi Raja atau Pemimpinnya akan tetapi demi sampaianya Ad-Dien ini kepada saya dan anda semua. Tahukah kita siapa ketiga ksatria tersebut? Mereka adalah Zaid Ibnu Haritsah, Ja’far Ibnu Abi Thalib, dan Abdullah ibnu Rawahah. Namun tahukah kita kisah hidup mereka bertiga? Atau bahkan pernahkah kita mendengar nama mereka? Inilah yang menjadi ironi umat muslim sekarang, mereka melupakan kisah para pahlawan mereka yang begitu nyata sehingga mereka kehilangan rasa kepercayaan diri, kebanggaan, dan kehormatannya sebagai seorang muslim. Selain itu adanya usaha dari para musuh – musuh islam untuk memalsukan sejarah dengan cara penghancuran sejarah islam lalu menggambarkan mereka sebagai penjahat, pembunuh, dan sekumpulan orang yang tidak berakal sehat lalu para pemalsu sejarah ini mengagungkan pahlawan mereka sendiri, maka berubahlah seorang panglima seperti ‘Amr Ibnul ‘Ash menjadi penjahat perang sementara seorang penjahat perang seperti Napoleon Bonaparte digambarkan sebagai seorang panglima besar yang kita pelajari di buku – buku disekolah dulu. Begitu juga dengan ‘Abbas ibnu Farnas’ sang penemu pesawat yang dianggap penemu yang tidak waras sementara itu Wright bersaudara terus disanjung padahal uji coba Abbas ibnu Farnas juga berhasil.

    Abbas ibnu Farnas penemu pesawat pertama

Contoh lainya bagi para pengagum tokoh komunis Che Guevara, apa pendapat kita mengenai seorang tokoh muslim yang diakui Guevara sebagai guru yang mengajarinya secara pribadi taktik perang gerilya yang dijalankan oleh pahlwan islam ini. Pernahkan kita mendengar seorang pahlwan dari negeri Maghribi atau Maroko Al Amir Muhammad Ibnu Abdul Karim Al Khatthabi? Atau pernahkah kita mendengar kisah keberanian para sahabat yang menembus lapisan bawah tanah dibawah sungai dan air terjun yang bahkan lebih tidak mungkin dari kisah sequel mission imposible. Satu hal yang penting kita ketahui adalah bahwa kita belum mengenal sedikitpun tentang sejarah kita, ini salah satunya diakibatkan oleh adanya pemalsuan sejarah oleh para musuh islam sehingga yang tersisa hari ini hanya cerita Sinbad, Aladin, dan Ali Baba yang merupakan khayalan belaka. Dimana mereka menjadi pahlawan berkat lampu sihir atau karpet terbang, maka seolah jika kita sebagai seorang muslim dan ingin menjadi pahlawan kita harus menemukan lampu sihir Aladin atau dengan karpet terbangnya. Jika pemahaman ini telah terinternalisasi dalam setiap diri umat ini maka hilanglah jati diri umat ini dan runtuhlah kepercayaan diri mereka lalu mereka hanya akan menjadi pengikut para pemalsu sejarah kemudian jatuhlah kita bagaikan buah yang membusuk.

Namun InsyaAllah pada kesempatan kali ini, kita sendiri yang akan menuliskan kembali sejarah umat ini dengan tangan kita setelah kita hapuskan debu yang menyelimuti kisah para manusia mulia ini. Dan pada kesempatan kali ini akan kita bahas mengenai seorang khalifah islam yang agung yang sangat disegani dan dihormati oleh raja – raja di Eropa dialah Sulaiman Al Qanuny rahimahullah yang pada masanya wilayah kekhalifahan islam mencapai batas terluas dalam sejarah umat islam.

Sultan Sulaiman Al Qanuny atau Sulaiman The Magnificent

Dia adalah Sulaiman, putra Salim I, putra Bayazid II, putra Muhammad Al Fatih, putra Murad II, putraMuhammad I, putra Bayazid I, putra Murad I, putra Orkhan Ghazi, putra Utsman Ibnu Ortoghrul. Ayahnya Sultan Salim I menamainya Sulaiman untuk meneladani Nabi Sulaiman a.s seorang nabi sekaligus raja yang besar serta untuk menanamkan rasa bangga dalam hatinya karena membawa nama agung ini. Singkatnya Sultan Sulaiman Al Qanuny meneruskan kekhilafahan setelah wafatnya Sultan Salim I dan saat itu umurnya masih 25 tahun. Kemudian ujian sebagai seorang khalifah langsung ia hadapi usai ia diangkat menjadi sultan seperti pemberontakan oleh beberapa wakilnya yang menganggapnya masih belia, namun sultan Sulaiman menjawabnya dengan ‘tangan besinya’ dan dalam waktu singkat ia berhasil menekuk semua usaha pemberontakan itu. Salah satu pemberontakan terbesar yaitu pemberontakan dari Raja Hungari, ia menolak membayar jizyah yang pernah ia tunaikan pada zaman sultan Salim I maka sultan Sulaiman menyiapkan dan memimpin sendiri pasukan islamnya yang besar. Ia lalu  maju ke tengah benua eropa hingga sampai di salah satu benteng terkuat yaitu Belgrad (Ibu Kota Serbia sekarang) yang dahulu bagian dari kerajaan Hungaria.

                     Belgrade Fortress di Serbia

Belgrad merupakan benteng terakhir pasukan Nasrani di timur eropa, karena begitu kuatnya benteng ini sampai sultan Muhammad Al Fatih sang penakluk Konstantinopel tidak mampu menaklukan Belgrad, bahkan ia terluka dalam pengepungan panjangnya. Dalam keadaan terluka beliau kumpulkan sisa tenaganya dan mengangkat tanganya kelangit seraya berdoa “Ya Allah taklukanlah kota ini, melalui seseorang dari keturunanku” dan Doa ini dikabulkan oleh Allah sehingga Belgrad ditaklukan oleh Sulaiman. Hal pertama yang Beliau lakukan setelah menaklukan kota ini yaitu menyerukan kumandang adzan dari atas benteng Belgrad lalu tersebarlah kabar kejatuhan Belgrad ke seluruh penjuru Eropa, maka berbondong – bondong raja Eropa membayar jizyah kepada khalifah yang mereka anggap remeh ini yang ternyata seorang pemimpin kuat dan mampu memimpin pasukannya sendiri.

Saat itu jadilah Sulaiman Al Qanuny sebagai pemimpin terkuat di dunia hingga raja Perancis, Francis I meminta pasukannya untuk membebaskan Perancis dari penjajahan Spanyol. Maka bergeraklah Angkatan Laut Turki Utsmani dibawah Laksamana Laut Turki Utsmani Khairuddin Barbarosa untuk membebaskan Perancis dari penjajahan Spanyol. Kota pertama yang ditakluki adalah kota Nice dan pulau Korsika dan sebagai imbalanya kota pelabuhan Toulon dijadikan sebagai markas angkatan laut Turki Utsmani. Bahkan sultan Sulaiman dapat mengatur undang – undang Perancis sesuai pendapatnya seperti saat Perancis akan menyelenggakan tarian bagi rakyatnya tetapi oleh sultan dilarang dan supaya tidak menyebarkan kerusakan di masyarakat Perancis dan Perancis pun menaati perintah sultan tersebut. Selain itu Sultan Al Qainuny meneruskan pembebasan berbagai kota islam di Afrika Utara dari cengkraman tentara salib maka dibukalah Tunisia, Al Jazair, dan Libya dari tentara salib tak cukup sampai disitu beliau juga memerangi Portugis di sepanjang Laut Merah juga penjagaan teluk Arab dari tentara salib yang bermaksud menjajahnya maka bersatulah Oman, Al Ahsa’(saudi arabia), dan Qatar dalam kesatuan khilafah Turki Utsmani. Setelah itu datanglah surat dari muslim India yang diperangi oleh Portugis maka dikirimlah kekuatan laut Turki Utsmani untuk menyelamatkan muslim India, juga muslim Aceh, Indonesia yang meminta bantuan pasukan kepada Khalifah Sulaiman AlQanuny pun sama dikirim pasukan laut Turki Utsmani.

Oleh : Ihsan Maulana (Staff Kaderisasi KAMMI Bandung 2016-2018)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*