Pengelolaan Dauroh KAMMI Efektif

Jpeg

Dauroh merupakan sarana kaderisasi bagi calon kader atau kader yang dilakukan secara berjenjang dengan sasaran pembentukan pondasi jati diri kader asasi sebagai proyeksi menuju pemenuhan jati diri kader secara menyeluruh sekaligus sebagai sarana imunisasi kader.
Jika merujuk pada buku Perangkat-perangkat Tarbiyah Ikhwanul Muslimin, Mahmud (2011: 323) mengatakan bahwa dauroh adalah aktivitas berkala, yakni dilaksanakan pada setiap waktu tertentu secara rutin.
Dauroh adalah aktivitas mengumpulkan sejumlah orang yang relatif banyak di suatu tempat untuk mendengarkan ceramah, kajian, penelitian, dan pelatihan tentang suatu masalah, dengan mengangkat tema tertentu yang dirasa penting bagi keberlangsungan amal islami (Mahmud, 2011: 323).
Dauroh merupakan salah satu perangkat yang sering dipergunakan oleh KAMMI dengan maksud meningkatkan kadar wawasan dan pelatihan pada diri kader KAMMI—baik sebagai individu maupun pemimpin—untuk kepentingan aktivitas Islam, atau untuk kepentingan dakwah dan KAMMI.
Dauroh memiliki andil secara nyata dalam menjaga orisinalitas ideologi KAMMI dan menciptakan kecakapan untuk menunaikan tugas-tugas dakwah, selain memberikan pelatihan untuk merealisir berbagai konsep yang ingin diaktualisasikan melalui dauroh.
Menurut Mahmud (2011: 325) bahwa tujuan dauroh secara umum adalah mempersiapkan personil atau pemimpin dengan matang untuk menunaikan tugas-tugas aktivitas, studi, dan dialog, serta untuk mampu melihat berbagai sampel ideal yang dicontohkan oleh para tutor yang membimbing kajian dan pelatihan di forum dauroh.
Di samping itu, dauroh juga memiliki target-target khusus yang sejalan dengan keragaman bidang yang menjadi sasaran diselenggarakannya dauroh. Berikut yang dipaparkan oleh Mahmud (2011: 325-326) dalam buku Perangkat-perangkat Tarbiyah Ikhwanul Muslimin:
a.Menyiapkan individu muslim yang komitmen, baik secara keilmuan maupun operasional.
b.Menyiapkan pemimpin (naqib) sesuai dengan sifat-sifat yang harus terpenuhi.
c.Menyiapkan seorang pemimpin pada level satu tingkat di atas naqib, sesuai dengan sifat-sifat yang harus dipenuhi sesuai dengan tingkatannya.
d.Menyiapkan kajian dan riset ilmiah dalam berbagai bidang aktivitas Islam dengan menghadirkan berbagai perangkatnya, sekaligus mengenalkan metodologi dan tujuannya.
e.Membangun kesadaran dan wawasan pengetahuan bagi personil atau pemimpin.
f.Membangun kesadaran dan kemampuan untuk menganalisa berbagai bidang persoalan. Yang terpenting antara lain : bidang politik, sosial, ekonomi.
g.Membangun kesadaran dan wawasan jurnalistik bagi personil maupun pemimpin.
h.Membangun kesadaran dan wawasan ketarbiyahan bagi personil dan pemimpin.
i.Membangun kesadaran dan wawasan yang jernih di berbagai bidang yang berhubungan dengan beragam tingkatan sosial, seperti pelajar, buruh, tani, dan para pemimpin masyarakat.
j.Membangun kesadaran dan pemahaman yang mendalam tentang berbagai arus nilai yang mendukung Islam agar dapat saling memahami dan bekerja sama.
k.Membangun kesadaran dan pemahaman yang mendalam tentang berbagai arus nilai yang memusui Islam, seperti: Zionisme, Zending, Atheisme, Sekularisme, dekadensi moral, kejumudan.
l.Membangun cara pandang yang benar dan cermat terhadap dunia Islam kontemporer.
Agenda acara dauroh beragam sesuai dengan jenis dan tema dauroh. Begitu yang ada pada manhaj pengkaderan KAMMI. Terdapat berbagai macam dauroh, diantaranya ada dauroh marhalah, dauroh ijtima’iyah, dauroh instruktur, dauroh pemandu, dauroh qur’an, dauroh jurnalistik, dauroh kehumasan, dauroh organisasi, dauroh asykariyah, dauroh siyasi dan lain sebagainya.
Agar suatu dauroh efektif, maka diperlukan manajemen yang baik dan mapan. Manajemen menurut Tim Dosen Jurusan Administrasi Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia (2008: 91-92) merupakan suatu proses yang sistematis dalam melakukan kegiatan organisasi. Proses manajemen secara umum mengikuti langkah-langkah merencanakan, mengorganisasikan, memimpin, dan mengendalikan.
Berikut penjelasan singkat mengenai proses manajemen : (a) Secara sederhana merencanakan adalah suatu proses merumuskan tujuan-tujuan, sumber daya, dan teknik/metode yang dipilih. (b) Mengorganisasikan adalah proses mengatur, mengalokasikan dan mendistribusikan pekerjaan, wewenang dan sumber daya diantara anggota organisasi untuk mencapai tujuan organisasi. (c) Memimpin merupakan upaya mengarahkan dan memotivasi para personil agar dapat melaksanakan tugas pokok fungsinya dengan baik. (d) Mengendalikan adalah upaya membuat institusi berjalan sesuai dengan jalur yang telah ditetapkan dan sampai kepada tujuan secara efektif dan efisien.
Setiap program dauroh harus dapat mewujudkan tujuan umumnya, kemudian mewujudkan target khusus sesuai dengan tema dauroh yang diselenggarakan. Sebagaimana yang telah dipaparkan oleh Mahmud (2011: 327-328) bahwa tujuan umum program dauroh—jenis yang mana pun—adalah :
Pertama, menentukan batas waktu dauroh; tiga hari, satu pekan, atau lebih dari itu, sekiranya dapat menuntaskan agenda acara yang diinginkan dan memenuhi dua aspek sekaligus; aspek ilmiah dan aspek pelatihan.
Kedua, menentukan tingkatan peserta yang diundang untuk mengikuti dauroh sehingga dapat ditentukan pula jenis program acara yang sesuai dengan mereka.
Ketiga, menentukan tempat penyelenggaraan dauroh dan menyiapkan segala hal yang dibutuhkan; perlengkapan sehari-hari dan berbagai sarana elektronik seperti proyektor, video, tape recorder, buku, buletin atau tulisan hasil penelitian atau berbagai informasi penting yang telah dicetak, sehingga program dauroh dapat terlaksana dengan baik, sukses, dan mampu mencapai sasaran.
Keempat, membuat kesepakatan dengan para pembicara dauroh dan menentukan kisi-kisi pembahasan yang perlu disampaikan. Hal itu dilaksanakan dalam waktu secukupnya sebelum waktu pelaksanaan dauroh, sehingga program acara dapat mewujudkan tujuan-tujuannya dengan sukses.
Kelima, mempersiapkan lembar evaluasi yang dibagikan kepada para peserta dauroh sebelum dan sesudah pelaksanaan.
Pelaksanaan program dauroh dalam konteks organisasi KAMM maka harus tunduk kepada manhajnya, dalam hal ini merujuk pada manhaj pengkaderan KAMMI 1436 H. Definisi Manhaj sebagaimana dikutip dari website (PustakaSunnah.wordpress.com) adalah jalan yang jelas dan terang, kaidah-kaidah dan ketentuan-ketentuan, atau metode.
Manhaj dalam bahasa pendidikan seperti halnya kurikulum. Menurut Tim pengembang MKDP Kurikulum dan Pembelajaran Universitas Pendidikan Indonesia (2009: 7-8) bahwa definisi kurikulum memiliki empat dimensi, diantaranya dimensi ide, dimensi rencana, dimensi aktivitas dan dimensi hasil. Berikut penjelasnnya :
a.Pengertian kurikulum sebagai dimensi yang berkaitan dengan ide pada dasarnya mengandung makna bahwa kurikulum itu adalah sekumpulan ide yang akan dijadikan pedoman dalam pengembangan kurikulum selanjutnya.
b.Makna dari dimensi kurikulum ini adalah sebagai seperangkat rencana dan cara mengadministrasikan tujuan, isi, dan bahan pelajaran, serta cara yang digunakan untuk pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran guna mencapai tujuan pendidikan tertentu.
c.Pengertian kurikulum sebagai dimensi aktifitas memandang kurikulum merupakan segala aktifitas dari guru dan siswa dalam proses pembelajaran di sekolah.
d.Definisi kurikulum sebagai dimensi hasil memandang kurikulum itu sangat memperhatikan hasil yang akan dicapai oleh siswa agar sesuai dengan apa yang telah direncanakan dan yang menjadi tujuan dari kurikulum tersebut.
Untuk menjadikan pelaksanaan dauroh lebih efektif maka pelaksananya pun atau orang yang bertugas mengelola dauroh harus orang-orang pilihan. Dalam konteks organisasi KAMMI, maka pelaksana dauroh adalah Instruktur. Mahmud (2011: 330) menjelaskan bahwa yang bertugas mengelola acara dauroh adalah salah seorang kader yang telah memenuhi beberapa sifat yang memungkinkan seseorang dapat melaksanakan tugas besar dan mulia seperti ini.
Mahmud (2011: 330) memaparkan ada beberapa syarat yang harus terpenuhi dalam diri seseorang yang bertanggungjawab mengatur satu kegiatan dauroh, antara lain sebagai berikut :
a.Terdidik, baik secara akademis maupun di medan aktivitas. Dengan demikian ia tidaklah buta tentang tujuan acara ini.
b.Telah direkomendasikan dan mendapatkan kepercayaan dari para pemimpinnya.
c.Memiliki bobot keilmuan yang memadai sehingga layak untuk memegang tugas ini, dan hendaknya disiplin ilmunya sesuai dengan tema dauroh dan bidang kajian yang akan dibahas di dalamnya.
d.Memiliki pengalaman dalam dakwah, dalam interaksi sosial, memiliki pengetahuan tentang saudara-saudaranya, dan memiliki tanggung jawab kepada mereka.
e.Memiliki kemampuan manegerial dan kemampuan beraktivitas dalam harakah dan tanzhim.
f.Memilih kemampuan dalam menseleksi orang secara baik, teliti dalam mengambil keputusan, untuk ikut serta dalam dauroh yang ia pimpin, baik secara sendirian maupun bersama para pembantunya.
g.Memiliki kepribadian kuat yang mampu menjatuhkan keputusan tegas ketika diperlukan, dicintai oleh saudara-saudaranya, dan dihormati oleh mereka
Salah satu contoh dauroh KAMMI yang ada di manhaj pengkaderan KAMMI adalah Dauroh Marhalah. Dauroh Marhalah merupakan sarana pengkaderan formal KAMMI yang dilakukan secara sadar, terencana, sistematis dan berkesinambungan serta memiliki pedoman secara nasional (yakni Manhaj Pengkaderan KAMMI) dan aturan yang baku dalam upaya mencapai tujuan organisasi KAMMI.
Dauroh ini berfungsi memberikan kemampuan tertentu kepada para pesertanya sesuai dengan tujuan dan target pada masing-masing jenjang dauroh sehingga menuntut persyaratan tertentu dari pesertanya.
Kurikulum yang terdapat dalam manhaj pengkaderan KAMMI ini merupakan penggambaran metode training. Oleh sebab itu penerapan dari kurikulum adalah erat hubungannya dengan masalah yang menyangkut metode-metode yang digunakan dalam training. Demikian pula materi training memiliki keterpaduan dan kesatuan dengan metode yang ada dalam penjenjangan dauroh marhalah. Dalam hal ini, untuk penerapan kurikulum dauroh marhalah ini perlu diperhatikan beberapa aspek;
1.Penyusunan jadwal materi dauroh
Jadwal dauroh adalah sesuatu yang menggambarkan isi dan sistematika dari dauroh itu sendiri. Oleh karena itu perumusan jadwal dauroh hendaknya menyangkut masalah-masalah:
a.Urutan materi hendaknya dalam penyusunan dauroh perlu diperhatikan. Upayakan agar urutan tiap-tiap materi memiliki korelasi dan tidak berdiri sendiri. Dengan demikian materi-materi yang disajikan dalam dauroh selalu mengenal prioritas dan berjalan secara sistematis dan terarah. Karena dengan cara seperti itu akan menolong peserta dapat memahami materi dalam training secara menyeluruh dan terpadu.
b.Materi dalam dauroh marhalah harus selalu disesuaikan dengan jenis dan marhalahnya.
2.Cara dan bentuk penyampaian materi
Cara penyampain materi-materi dauroh adalah gabungan antara ceramah dan diskusi/dialog. Semakin tinggi jenjang/status keanggotaan peserta dauroh, maka semakin banyak terjadi komunikasi ide (dialog/diskusi). Artinya, instruktur bersama Master of Training (MoT) berusaha untuk membangun iklim tersebut. Untuk menumbuhkan kegairahan dan suasana dinamis dalam dauroh, maka hendaknya difasilitasi dalam bentuk forum group discusion (FGD).
3.Adanya keharmonisan antara metode yang dipergunakan dengan jenjang keanggotaan, sehingga terjadi keselarasan antara pencapaian tujuan pengkaderan KAMMI (Muslim Negarawan) dengan target yang akan dicapai dalam dauroh.

Oleh : Fajar Romadhon (Kadept Kaderisasi KAMMI Bandung 2016-2018)

Daftar Pustaka
Buku:
Mahmud, A. A. (2011). Perangkat-perangkat Tarbiyah Ikhwanul Muslimin. (F. Muhammad, A. Abdulghani, Eds., W. Ahmadi, Fakhruddin Nursyam, & K. A. Faqih, Trans.) Solo: PT Era Adicitra Intetrmedia.
Manhaj Pengkaderan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI).
Tim Pengembang MKDP Kurikulum dan Pembelajaran. (2009). Kurikulum dan Pembelajaran. Bandung: Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan FIP UPI.
Tim Dosen Jurusan Administrasi Pendidikan UPI. (2008). Pengelolaan Pendidikan. (J. Permana, D. Suhardan, D. D. Koswara, & E. Herawan, Eds.) Bandung: Jurusan Administrasi Pendidikan UPI.

Internet:
๑۩๑ Definisi Manhaj

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*