Panggung Peperangan Itu Bernama “Dunia”

Getaran suara bom itu sampai kini menusuk hati dan fikiran masyarakat Hiroshima Nagasaki. Suara-suara tank tak dapat terbendung pada pagi dan sore dikala perang dunia kedua. Konfrontasi dan penghancuran seakan-akan menjadi obat yang paling mujarab disaat dua kubu yang berseteru. Tak ada timbang rasa ataupun rasa kemanusiaan disaat rumah-rumah dibombardir. Entah mereka sedang makan atau mereka sedang ketakutan. Pagi pun tak terasa dinginnya. Udara yang dulunya segar kini berubah menjadi kabut asap. Seakan bencana kebakaran. Namun ini bukan tanpa tersangka, ini ada dalangnya.

Dunia ini bagaikan sempit dan diisi oleh orang-orang yang haus akan kekuasaan nafsunya. Perut yang penuh akan makanan tak membuat ia kenyang dan berhenti makan. Kekuasaan menjadi dalih terbaik untuk menentukan siapa yang paling hebat dan menghegemoni dunia. Inilah dunia, jika tak ada tumpah darah dan peperangan, dunia menjadi tidak sempurna. Mari kita lihat, banyak sekali penyelesaian masalah pada satu Negara ke Negara lain hanya menghasilkan peperangan, pembunuhan dan pembantaian. Nafsu yang berkepanjangan membuat mereka ingin menghegemoni peradaban. Seakan cara dan budaya mereka yang paling ampuh untuk menyelesaikan kompleksnya masaslah demi masalah didunia. Ketika Uni Soviet kalah oleh Amerika serikat, disaat itulah banyak yang mengatakan kapitalisme barat akan menjadi nomor satu didunia. Dalam buku Samuel P. Huntington dikatakan bahwa, kejayaan barat (baca: Amerika) akan menemukan titik jenuhnya. Dan prediksi itu benar terjadinya pada saat sekarang. Dunia yang dulunya didikotomi oleh ‘barat’ dan ‘non barat’, kini menjadi ‘barat’ dan ‘timur’. Bahkan lebih ekstrimnya lagi ‘barat’ dan ‘China’. Perekonomian yang membaik, surplus pendapatan Negara dan lain sebagainya membuat china berada di puncak peradaban dunia.

Jurus ampuh yang digunakan antara Afganistan dan pasukan Uni soviet pada saat menyelesaikan medan satelit adalah peperangan. Timbul pertanyaan umum “mengapa perang tersebut terjadi”. jawaban yang paling eksplisit untuk menjelaskan hal ini adalah bagaimana satu Negara diantara dua Negara yang bersteru ingin menguasai Negara lawannya dengan cara menjatuhkan dan memerangi. Sehingga kemudian tak jarang jika konflik dan peperangan ini terjadi selama sepuluh tahun. Panggung peperangan ini tidak hanya dimainkan oleh dua Negara yang layaknya bermain catur dimeja tamu. Panggung peperangan ini melibatkan negaar-negara yang mempengaruhi Negara yang berperang itu kalah atau menang. Contoh yang paling kongkrit adalah peperangan antara Armenia dan Azerbaijan. Dimana Armenia didukung oleh entitas Kristen barat atau amerika dan Azerbaijan didukung oleh Negara turki yang menyatakan bahwa Azerbaijan merupakan saudara seagama.

Buku Huntington juga menjelaskan bahwa, peperangan dan ketdaksesuaian antara satu Negara dengan Negara lain disebabkan oleh adanya perbedaan budaya, etnisitas dan agama. Namun faktor yang paling menumbuhkan loyalitas paling tinggi adalah agama. Layaknya afiliasi agama Kristen eropa yang menentang masuknya Negara turki sebagai entitas islam di eropa tersebut.

Sebuah tulisan karya Francis Fukuyama menuliskan bahwa “akhir dari berbelitnya pola hidup didunia ini adalah membosankan.”

“Dunia sungguh anarkis, penuh dengan pertikaian-pertikaian antar suku dan antar bangsa, akan tetapi konflik-konflik yang paling berbahaya bagi stabilitas adalah konflik antarnegara atau antara berbagai kelompok yang berasal dari peradaban yang berbeda”- Samuel P. Huntington (The Class of Civilizations)

 

Oleh : Budi (Ketua Komsat UNPAS 2017)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*