Only America First, America Great Again ?

BIRCH RUN, MI - AUGUST 11: Republican presidential candidate Donald Trump speaks at a press conference before delivering the keynote address at the Genesee and Saginaw Republican Party Lincoln Day Event August 11, 2015 in Birch Run, Michigan. This is Trump's first campaign event since his Republican debate last week. (Photo by Bill Pugliano/Getty Images)

Sikap egois, inilah yang mengambarkan pidato Presiden terpilih Amerika Serikat ke-45 Donald John Trump tentang langkah Amerika kedepan. Lebih mengedepankan emosi dari pada solusi pemecahan masalah Amerika kedepan dengan akal sehat terlihat dalam pidato kenegaraannya. “Bye Amerika, hey Amerika !” Kurang lebih kalimat tersebut dilontarkan Trump, kurang tepat rasa-rasanya Trump mengatakan hal tersebut. Amerika sebagai pemegang title negara ‘adidaya’ haruslah mampu mengayomi banyak negara dibelahan dunia, bukan kemudian meminta negara lain untuk mengkuti Amerika.

Dalam pidatonya, Trump sangat sedikit sekali menyinggung tentang kerjasama internalsional. ‘Indoor Looking’, begitulah inti pemikiran yang tertuang dalam pidato kenegaraan pertama Presiden Amerika terpilih Donald Trump. Trump tidak melihat secara luas bahwa satu dasawarsa ini Tiongkok yang berkembang pesat dikarenakan keterbukaan, berkat ‘International cooperations’ kerjasama internasional dengan berbagai negara dibelahan dunia. Dapat kita katakan bahwa tidak ada satu negara manapun yang di dunia mampu menyelesaikan masalah negara nya sendiri. Dalam kurun waktu beberapa tahun nilai-nilai kebijakan hubungan diplomatik Amerika dibangun dengan peharaagn yang tinggi terhadap sekutu, guna menjaga stabilitas dominasi barat.

“Seumur hidup harus menang”, begitulah falsafah tradisi keluarga Trump.
Dalam konteks bernegara, Amerika Serikat tidak bisa menang dengan sendirian, akan tetapi negara-negara lain harus juga bersama-sama menang. Dunia abad ke-21, falsafah kerjasama penting dalam hubungan diplomatik, “saya menang dengan membawa anda menang” begitulah sejatinya. Trump membawa dunia bisnis ke dunia pemerintahan, Trump dalam hal ini tidak mampu membaca akan dunia abad ke 21, dimana Tiongkok dan Rusia membuka diri kepada negara-negara di dunia.

Trump tidak memahami nilai-nilai yang mendasari kebijakan luar negeri Amerika. Dalam pidato nya, pemimpin Rusia mendapat pujian. Dimana Putin bukan seorang demokrat sejati yang menghargai aturan politik internasional.
Hubungan yang akan terjalin berada pada dasar ‘Prakmatisme Politik’ yang luar biasa, membenturkan nilai-nilai mendasari kebijakan luar negeri yang di bangun Amerika selama ini. Trump tidak melihat peta kekuatan NATO, Jepang, Mexico dan negara-negara lain.

Pidato yang disampaikan Trump didepan ratusan ribu rakyat Amerika yang memadati Capitol Hill di Washingtong DC dan jutaan masyarakat dibelahan dunia akan menimbulkan resistensi besar dari rakyat Amerika dan dunia. Belum jelas siapa ‘setting political’ Trump, dimana sejauh ini Trump dekat dengan banyak CEO perusahaan dan para mantan Militer. Banyak kontroversi terjadi dalam upacara inagurasi, diboikot oleh 67 anggota demokrat saat pelantikan, bentrokan terjadi dimana-mana.

Dampak nyata pun sudah mengahampiri negara kita, penurunan signifikan coorporate kapital di Indonesia berada 35% turun 15 %. Disinyalir imigrasi akan tiarap, karena dokumentasi-dokumentasi akan dipersulit.  Dengan retorika yang kontroversinya, Trump mengajak rakyatnya untuk menjadi warga kelas satu,
dimana warga asli Amerika yang akan diutamakan. Para imigran akan di depak, tidak terkecuali Indonesia. Negara negara kawasan adalah negara yang akan mengalami dampak signifikan. Indonesia memiliki kerjasama ekonomi dengan Tiongkok sekitar 60%. Dan berkaca pada pidato Trump, jelas ini sangat berbahaya dalam konteks stabilitas negara.

Apabila kita mencermati, Barack Obama dan Wakilnya Joe Biden sama sekali tidak beraksi apapun dengan apa yang dikatakan Donald Trump. Begitu pula dengan Mantan Presiden Amerika Bild Clinton. Seolah-olah mereka berkata dalam diri. “Tidak sesederhana itu, nanti anda akan merasakan sendiri bagaimana kompleksitas dunia pemerintahan.”

Trump juga pun menyinggung terkait ISIS dan krisis di Timur Tengah, yang menjadi tamparan keras buat Obama dan Hilarry. Tidaklah relastis apabila kemudian Trump mengatakan dalam kurun waktu 4 tahun kedepan aksi terorisme akan hilang dari dunia. Menciptakan musuh lebih banyak, Amerika sejatinya harus mampu merangkul negara-negara Islam, bukan malah sebaliknya memeranginya.
Dunia hari ini hampir tidak mengaharapkan kepemimpinan Amerika. Ekonomi perdagangan dunia, mulai bergeser. Pekerjaan rumah untuk Trump dalam melakukan konsolidasi Partai Republik yang sampai hari ini masih terpecah. Trump juga harus mampu merangkul partai Demokrat. Dalam spektrum politik Trump harus bediri ke tengah karena sekarang dia berada di politik kanan. Dan Trump tidak boleh memaksakan kebijakan tidak populis.

Pemerintah Indonesia pun jangan ragu untuk bersikap, tentang diaspora imigran asal Indonesai, tentang Islam, Palestina, yang dapat meningkatkan ketegangan.
Dan pada kesimpulan nya , Trump memulai pemerintahan dengan pidato diplomatik paling rendah selama pemerintahan Amerika !

Oleh : Anggara Adhe Putra (KAMMI Bandung)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*