Madrasah Kammi 1 Sebagai Upaya Menjaga Originalitas Kader Muslim Negarawan

Sebuah organisasi atau gerakan yang paling baik yaitu yang paling banyak memberikan kebermanfaaan. Seperti dalam sebuah hadits Rasulullah SAW yang berbunyi Khairunnas Anfa’uhum Linnaas, sebaik – baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat. KAMMI sebagai sebuah Harokatul Amal dan Harokatut Taznid tidak akan terlepas dari kegiatan – kegiatan pengkaderan dalam hal ini kegiatan Madrasah Kammi. Delapan belas tahun sejak kemunculanya, KAMMI berusaha untuk menjadi problem solver atas sekian banyak permasalahan kebangsaan dan dalam setiap periode perjuanganya selalu ada tantangan berbeda yang harus diselesaikan dan dihadapi. Untuk melewati semua rintangan tersebut diperlukan kader – kader yang tangguh dan siap menghadapi tantangan tiap zaman yang berbeda. Oleh karena itu melalui MK1 ini merupakan upaya yang dilakukan secara berkesinambungan untuk meningkatkan kualitas kader sesuai dengan IJDK KAMMI.

Pemandu merupakan pelaksana penerapan manhaj kaderisasi KAMMI pada anggota, untuk mendapatkan kinerja optimal maka para pemandu harus memiliki kompetensi yang harus dipenuhi terlebih dahulu. Menjadi seorang pemandu merupakan sebuah tugas yang sangat mulia, sebagai mana kita tahu firman Allah SWT dalam Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 151 yang artinya, “Sebagaimana kami telah mengutus kepadamu seorang Rasul dari kalangan kamu yang membacakan ayat – ayat kami, menyucikan kamu, dan mengajarkan kepadamu kitab (Al-Quran) dan hikmah (Sunnah) serta mengajarkan apa yang belum kamu ketahui”. Oleh karena itu setiap pemandu memiliki kewajiban untuk membawa binaan MK nya memahami islam lebih mendalam, secara spesifik tuntas menjadi sorang syaksiyah islamiah. Mengutip dari tulisan Dr. Yusuf Al-Qaradhawi salah satu kunci keberhasilan dakwah ikhwanul muslimin yaitu hadirnya sejumlah murabbi (pemandu) yang ikhlas, kuat, dan jujur, meyakini jalan yang ditempuh oleh sang pemimpin, dan membangung jaringan sebagaimana jejak sang pemimpin. Mereka berhasil menanamkan pengaruh pada murid – muridnya yang kemudian hari menjadi guru bagi generasi berikutnya. Murabbi (pemandu) yang saya maksud disini bukan alumnus fakultas pendidikan atau mahasiswa yang berhasil menyandang gelar magister atau doctor dalam bidang pendidikan, melainkan orang – orang yang memiliki kehangatan iman, ruh yang kuat, jiwa yang suci, motivasi yang tinggi, perasaan yang lapang, dan mampu mempengaruhi orang lain. Bisa jadi diantara mereka adalah seorang mekanik biasa, karyawan rendah, pedagang atau pekerja yang sama sekali tidak pernah mengkaji masalah – masalah paradigma pendidikan atau kurikulum pendidikan.

MK1 merupakan sebuah upaya untuk melakukan pembinaan terhadap kader yang baru menyelesaikan proses Daurah Marhalah 1, dalam eskalasi tahapan pembinaan terdapat beberapa tahap yaitu: Tahap perkenalan, pembentukan, penataan, dan eksekusi. Peran MK1 pada tahapan ini yaitu berada di tahap pembentukan. MK1 berperan dalam menguatkan kader yang sudah baik dan membentuk kader baru menjadi kader yang militan dan produktif. Kader yang kuat akan mampu merencanakan dan menjalankan sistem yang kuat dan sistem yang kuat juga akan menghasilkan kader yang kuat pula. Berikut adalah beberapa hal yang harus dipenuhi oleh seorang pemandu agar dapat optimal dalam mengelola atau menjalankan kegiatan MK1:

  1. Memiliki Ruhiyah yang stabil

Kekuatan ruhiyah atau kekuatan langit yang Allah berikan untuk kadernya yang memiliki kedekatan kepada-Nya. Kekuatan ruhiyah lah yang menunjang seorang kader untuk selalu bertahan dalam dakwah, ia memiliki keyakinan dan keikhlasan bahwa setiap aktifitas yang dilakukan adalah dengan tujuan mendapat ridho Allah SWT semata. Sehingga segala tantangan yang dihadapi dapat ia maknai sebagai sebuah ujian untuk meningkatkan kualitas keimanan atau sebuah teguran atas kelalaian yang mungkin terjadi. Kekuatan ruhiyah dalam konteks mentoring berdampak pada kemampuan diri untuk menyampaiakan materi dan diresapi oleh peserta MK1, dengan kekuatan ini pula Allah akan membalas cinta kita dengan membukakan hati – hati dan pikiran kita dan binaan kita untuk menerima apa yang kita sampaikan. Ada sebuah kejadian yang menarik dimana pernah ada seorang pemandu yang memiliki kelemahan dalam berkomunikasi, akan tetapi ia memiliki keunggulan ruhiyah yang sangat baik untuk menunjang amanahnya sebagai seorang pemandu/mentor, sehingga Allah memudahkan kelompoknya dengan membuka hati binaanya yang saat itu masih jauh dari Allah dan saat ini menjadi seorang kader yang sangat produktif. Kekuatan ini memberikan ketenangan dan emosi yang menyatukan hati mentor/pemandu dengan binaan dalam rajut tali menali kecintaan kepada Allah semata.

  1. Mengenal pribadi binaan

Mengenal dengan baik pribadi peserta MK1 adalah hal yang perlu dilakukan untuk menguasai medan kelompok, mengenal pribadi binaan sejak awal dengan harapan dapat segera mendapatkan suasana yang nyaman dengan binaan dan terbentuk kepercayaan diantara pemandu dan peserta MK1. Kepercayaan ini adalah modal yang sangat penting bagi seorang mentor dalam menyampaikan materi, oleh karena itu perlu kiranya seorang pemandu  mengetahui apa saja yang perlu dipahami olehnya untuk dapat memberikan empatinya dengan baik kepada peserta MK1. Secara garis besar hal yang perlu diketahui oleh seorang pemandu kepada pesera MK1 yaitu Karakter peserta, kultur peserta, latar belakang peserta, visi personal, dan kompetensi peserta.

  1. Mengetahui peran pemandu

Seorang pemandu akan berfungsi sebagai seorang kakak atau saudara bagi peserta MK1 dalam hal diskusi dan menceritakan isi hati atau masalah yang mungkin dihadapi, oleh karena itu seorang pemandu perlu memiliki karakter empatik dengan harapan dapat menyentuh hati para peserta MK1 sehingga terjadi keterbukaan dan terbentuk nuansa kekeluargaan dalam kelompok MK1 tesebut.

  1. Variasi metode

Metode penyampaian materi divariasikan sebanyak mungkin, jika memungkinkan cara penyampaian berbeda setiap pekanya. Minimal siapkan 4 variasi metode sehingga setiap variasi ditemui setiap bulan. Sebutlah, pertemuan olahraga bersama, bedah buku, kunjungan ke tokoh, rihlah, masak bersama, dan lainnya. Variasi ini bertujuan untuk menghindari kejenuhan peserta MK1. Penyampaian materi pun juga disesuaikan dengan kebutuhan agar peserta siap untuk menrimanya.

MK1 diharapkan bukan hanya sebagai tempat penyampaian ilmu tetapi jauh dari itu juga dapat menjadi sebuah “workshop” untuk merakit agenda – agenda besar dakwah baik di lingkungan masyarakat kampus atau umum. Selain itu MK1 juga berfungsi untuk merakit pandangan atau worldview terhadap dakwah dan untuk menguatkan kedewasaan kader terhadap dakwah. Melalui MK1 ini pula seorang kader diarahkan untuk memenuhi kompetensi menjadi seorang muslim negarawan dengan lima profil muslim negarawan, enam kompetensi kritis, dan sepuluh IJDK. Karena seorang kader AB1 adalah kader yang memiliki Syaksiyah Islamiyah (kepribadian Islam) dan memiliki kesiapan dan kesediaan untuk bergerak di masyarakat guna merealisasikan dan mengeksekusi tugas – tugas dakwah yang telah digariskan KAMMI.

Oleh : Ihsan Maulana (Staff Kaderisasi KAMMI Bandung 2016-2018)

DAFTAR PUSTAKA

  1. As-Siisi, Abbas. 1995 Bagaimana Menyentuh Hati.
  2. Al-Qaradhawi, Yusuf, Dr. 2005 Tarbiyah Hasan Al-Banna dalam jamaah Al-Ikhwan Al-Muslimun. Cetakan ke-1. Jakarta: Robbani Press.
  3. Tim kaderisasi KAMMI Pusat. Manhaj 1431 H KAMMI.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*