Kesetaraan Gender : Perspektif Islam & Barat

Direktur The Center for Gender Studies (CGS) Dinar Dewi Kania menuliskan bahwa pada tahun 2011 lalu telah beredar draft Rancangan Undang-Undang Kesetaraan dan Keadilan Gender di masyarakat. Menteri PP pada rapat kerja DPR dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak pada tanggal 16 Februari 2011 menyatakan bahwa prioritas program kerja di bidang pemberdayaan perempuan adalah penyusunan Rancangan Undang-Undang kesetaraan Gender. Penyusunan RUU ini menurutnya merupakan suatu upaya untuk lebih mempercepat terwujudnya kesetaraan gender di semua bidang pembangunan dan pada tahun 2011 rancangan undang-undang tersebut sudah dimasukkan ke dalam Prolegnas, sebagai inisiatif DPR.
Berbicara tentang kesetaraan gender, menurut Ismail (Peneliti Center for Gender Studies (CGS) dan Mahasiswa S2 PKU ISID Gontor) berarti membahas perbedaan antara laki-laki dan perempuan dari segi sosial budaya dan bukan perbedaan yang dilihat sekedar dari anatomi biologi sebagaimana dicantumkan dalam RUU KKG yang digagas oleh para feminis. Mereka mendefinisikan istilah gender sebagai “pembedaan peran dan tanggungjawab laki-laki dan perempuan yang merupakan hasil konstruksi sosial budaya yang sifatnya tidak tepat dan dapat dipelajari serta dapat dipertukarkan menurut waktu, tempat dan budaya tertentu dari satu jenis kelamin tertentu ke jenis kelamin lainnya”. Artinya, bagi pegiat feminis, perilaku, tanggungjawab, serta kodrat laki-laki dan perempuan bukanlah ketetapan Tuhan melainkan terbentuk oleh lingkungan sehingga sangat dimungkinkan laki-laki menjadi perempuan dan begitu pula sebaliknya.
Lebih dari itu, dalam RUU KKG pasal 1 ayat 3, para feminis juga mendefinisikan konsep keadilan sebagai : “suatu keadaan dan perlakuan yang menggambarkan adanya persamaan hak dan kewajiban perempuan dan laki-laki sebagai individu dan keluarga, masyarakat dan warga Negara. Definisi semacam ini pada hakikatnya cacat ideologi. Mustahil untuk menyamaratakan hak dan kewajiban laki-laki dan perempuan.

Barbara Freyer Stowasser dalam karyanya yang berjudul “Reinterpretasi gender; wanita dalam al-Qur’an, hadits, dan tafsir” mengungkapkan bahwa isu wanita dan kesetaraan gender (gender equality) dalam Islam tetap menjadi wacana yang menarik untuk diperbincangkan dan tak pernah surut dari kontroversi. Wacana ini semakin menarik ketika kaum feminis liberal menyuarakan tuntutan persamaan wanita dengan pria dalam segala aspek kehidupan. Akibatnya, muncul anggapan bahwa Islam tidak akomodatif atas hak dan peran wanita dalam sistem hubungan sosial.
Penyetaraan hak laki-laki dan perempuan menjadi agenda pokok yang diperjuangkan oleh para feminis, mulanya merupakan respon atas kultur yang tidak menghargai perempuan secara semestinya sebagai manusia. Namun belakangan ini, menurut Rina Nurmaida bahwa ideologi feminisme yang dituangkan ke dalam paham kesetaraan gender (gender equality) telah menjadi tren baru masyarakat modern. Bahkan menjadi tolak ukur maju tidaknya pembangunan di sebuah negara, yaitu dengan menggunakan ukuran HDI (Human Development Indeks), GDI (Gender-related Development Index), GEM (Gender Empowerment Measurament), dll. Dengan ukuran-ukuran itu dan kampanye yang massif, kesetaraan gender seolah telah menjadi keniscayaan dan menjadi konsep yang patut diterima tanpa dipertanyakan lagi. Kesetaraan gender disebar untuk diundangkan secara global melalui instrumen CEDAW (Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination Against Women) yang digagas PBB dan diratifikasi mayoritas negara di seluruh dunia. Benarkah kesetaraan gender merupakan jawaban atas ketidakadilan yang dihadapi perempuan di seluruh dunia?
Upaya untuk memperjuangkan kesetaraan gender lebih dikarenakan ketidaktahuan akan peran perempuan atau sikap tidak terima terhadap kodrat mereka sebagai wanita. Para aktivis gender ingin memperjuangkan kesetaraan dalam porsi yang sama yaitu 50 : 50 dengan laki-laki. Intinya adalah apa yang dilakukan oleh laki-laki harus bias juga dilakukan oleh perempuan.
Padahal di tahun 1715-1747 Marquis De Vauvenargues sudah wanti-wanti “Alam tidak mengenal kesamaan; hukum, yang berlaku adalah subordinasi dan ketergantungan.” Hampir seabad kemudian James Anthony Fuller (1894) mengulangi pesan Marquis “Man are made by nature unequal, it is vain, therefore to treat them as if they were equal” (Hamid Fahmy Zarkasyi, 2012 : 261). Fakta sosial juga menunjukkan bahwa in-equality antara sesama laki-laki sekalipun bisa diterima. Apalagi antara laki-laki dan wanita. Fakta biologis menjelaskan struktur tubuh laki-laki dan perempuan berbeda dan membawa perbedaan psikologis.
Hamid Fahmy Zarkasyi pun mengutarakan pertanyaan dan mempertegas sikapnya yang rasional: Jika demikian apa berarti tuntutan equality tidak universal? memang! Sebab kebebasan dan persamaan adalah bagian dari America’s core culture (Fukuyama). Ronald Inglehart dan Pippa Norris mengatakan bahwa kesetaraan gender, kebebasan seks, perceraian, aborsi, dan hak-hak gay adalah ciri khas Barat. Maka benturan Islam—Barat adalah Sexual clash of Civilization. Maka ciri khas Barat yang telah disebutkan tadi tidak sesuai dengan ajaran Islam, begitu pula dengan adat—budaya serta nilai yang ada pada Negara Indonesia.
Islam sebagai agama yang sesuai fitrah, menempatkan manusia, laki-laki dan perempuan sesuai dengan kadar masing-masing, diperhitungkan setiap amalnya tanpa pengecualian— dan tidak ada yang lebih baik pengetahuannya terhadap hal tersebut kecuali Allah SWT, sang Khaliq, tanpa memperlakukan salah satu lebih istimewa dari yang lain kecuali taqwanya.
Artinya: “Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al-Hujurat : 13).
Adapun Al-Qur’an telah mengakui adanya perbedaan (distinction) antara laki-laki dan perempuan, tetapi perbedaan tersebut bukanlah pembedaan (discrimination) yang menguntungkan satu pihak dan merugikan pihak lainnya. Perbedaan tersebut menurut Dr. Nasaruddin Umar dimaksudkan untuk mendukung misi pokok Al-Qur’an, yaitu terciptanya hubungan harmonis yang didasari rasa kasih sayang (mawaddah wa rahmah) di lingkungan keluarga, sebagai cikal bakal terwujudnya komunitas ideal dalam suatu negeri yang damai penuh ampunan Tuhan (baldatun thayyibtun wa rabbun ghafur). Ini semua bisa terwujud manakala ada pola keseimbangan dan keserasian antara keduanya.
Artinya: “Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain, mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. At-Taubah: 71).

Oleh : Fajar Romadhon (Kadept Kaderisasi KAMMI Bandung 2016-2018)
Dafar Pustaka
Barbara Freyer Stowarres. (2001). Reinterpretasi Gender: Wanita dalam Al-Qur’an, Hadits, dan Tafsir. Bandung: Pustaka Hidayah.
Dinar Dewi Kania. (—). Feminisme dan Kesetaraan Gender dalam Timbangan Worldview of Islam. Jakarta: The Center for Gender Studies (CGS).
Hamid Fahmy Zarkasyi. (2012). Misykat; Refleksi tentang Islam, Westernisasi dan Liberalisasi. Jakarta: INSISTS.
Mohammad Ismail. (2013) Kesetaraan Gender dan Kebebasan Perspektif Islam. Peneliti Center for Gender Studies (CGS) dan Mahasiswa S2 PKU ISID Gontor. Diambil dari : Thisisgender.com
Nasaruddin Umar. (2010). Argumen Kesetaraan Gender Perspektif Al-Qur’an. Jakarta: Dian Rakyat.
Rina Nurmaida. (2014). Kesetaraan Gender Versus Keadilan Islam. Diambil dari : Thisisgender.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*