Head, Heart, dan Hand

(Nyatakan Cinta, Biar Semua Tidak Berada Dalam Pikiranmu Saja)

Kita semua punya cara untuk melihat diri sendiri. Saat SMP, aku suka melihat diriku sebagai kutu buku yang banyak tahu buku. Aku sangat pendiam waktu itu, kemampuan interpersonalku berada di urutan terakhir di lembar tes IQ-ku. Tapi, aku tidak peduli. Soalnya, aku sudah tahu cerita lengkapnya Harry Potter, sementara teman-temanku perlu menunggu filmnya dirilis biar tahu. Aku melahap Twilight-saga, cepen-cerpen Seno Gumira Ajidarma, Leila S. Chudori, American Gods, hingga Buffy The Vampire Slayer. Aku bangga.

Aku berpikir bahwa aku yang paling tahu. Tapi tiada seorang pun yang meminta pendapatku sebelum membeli buku. Jika kamu suka teenlit yang berbau detektif, coba karangannya Luna Torashyngu, jangan Ken Terate! Padahal aku bisa menghindarkan kalian dari rasa penyesalan, pikirku. Mereka kan tinggal datang dan tanya aku, apa susahnya!

Lalu perlahan aku sadar, semua itu hanya ada di kepalaku. Ya, aku memandang diriku sebagai kutu buku yang punya pendapat bagus soal buku. Tapi selama aku tidak pernah menunjukkannya pada dunia nyata, entah memberi tahu temanku atau menulis review di blog, bagaimana teman-temanku bisa tahu? Dari saat itu, aku sadar, yang signifikan di dunia nyata ini adalah aksi, bukan niat. Ya ya ya, pemikiran itu nyata, tapi cuma di kepalamu. Kalau pemikiran tidak direalisasikan dalam bentuk aksi, siapa yang bakal tahu?

Aku mahasiswa sekarang. Yang aku suka dari statusku ini adalah aku menemui banyak aktivis sekarang. Anak SMA jarang lah yang peduli lingkungan terus bikin gerakan menyelamatkan lingkungan. Tapi di perkuliahan, banyak orang yang sadar dan peduli pada something bigger than his/her self. Concern mereka pun bermacam-macam, ada yang peduli dengan pendidikan, lingkungan, politik, ekonomi, sampai HAM. Mereka percaya ada dunia yang lebih baik.

Tapi jangan senang dulu, I’d tell you an ugly truth.

Nggak semua dari mereka peduli betulan kok, mereka cuma kebetulan punya pendapat saja. Mereka cuma bisa berpikir, untuk diri mereka sendiri. Saat mereka bicara, mereka bicara untuk berpendapat saja. Mereka cuma punya otak dan kepedulian, tapi tidak punya tangan. Banyak orang-orang seperti ini. Bandingkan saja, berapa banyak orang-orang yang mengeluh tentang kotornya aspuri? Tapi berapa orang yang mau mengadakan kerja bakti mingguan dan rela mengetuk kamar penghuni satu per satu?

Peduli tanpa aksi tidak layak mendapat apresiasi.

Seperti seseorang yang jatuh cinta tapi nggak mau mengungkapkan perasaannya. Dia tidak bisa mendapatkan kepastian. Bahkan sekedar “I love you” nggak cukup dalam dunia percintaan. Kita semua ingin aksi, kita lebih yakin dengan kiriman obat dan makanan daripada sekedar ungkapan “Get well soon”.

Percayalah, aksi, sekecil apapun, sifatnya signifikan. Aksi sekecil apapun, akan memberi perubahan. Kamu tidak pernah tahu, disiplin yang kamu ajarkan pada adik tingkatmu itu ternyata menjadi salah satu kunci kesuksesan karirnya, seminar kecil yang kamu adakan ternyata memotivasi seseorang untuk berlatih public speaking, caramu mengajar adikmu matematika ternyata membuat dia tidak benci matematika, cara pembuatan bokasi yang kamu ajarkan ke satu kelompok tani ternyata dapat menambah penghasilannya, et cetera.

Kita sering melihat sosok-sosok rakus menduduki kursi kekuasaan, menyalahgunakan wewenang. Jangan khawatir dulu. Kamu lihat Ahok, Bu Risma, Ridwan Kamil, hingga lembaga KPK? Sekarang ini permulaan dari sebuah generasi baru. Masyarakat sekarang sedang mencari orang-orang jujur yang bisa kerja, membuat perubahan. Masyarakat sudah mulai lelah dengan omong kosong. Ini waktu bagi kita untuk belajar beraksi, karena beberapa tahun setelah ini, generasi kita lah yang bakal memimpin dan menggerakkan Indonesia.

Lakukan dari hal sederhana yang kamu bisa (setiap orang punya cara unik untuk berkontribusi) dan jangan remehkan kekuatan kebersamaan. Realisasikan pemikiranmu, biar dunia tahu.

Jangan sekedar percaya pada perubahan, jadilah penggerak perubahan itu.

Oleh : Prasetio Eryani (KAMMI Bandung)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*