Maqasid Syariah (Bag-1)

Definisi Maqasid Syariah
Secara lughawi, maqasid syariah terdiri dari dua kata, yaitu maqasid dan syariah. Maqasid adalah bentuk jama’ dari maqsud yang berarti kesengajaan atau tujuan. Syariah secara bahasa adalah jalan menuju sumber air. Jalan menuju sumber air ini dapat pula dikatakan sebagai jalan ke arah sumber pokok kehidupan (Jumantoro & Amin, 2009: 196).
Menurut Effendi & Zein (2014: 233) bahwa maqasid syariah berarti tujuan Allah dan Rasul-Nya dalam merumuskan hukum-hukum Islam. Tujuan itu dapat ditelusuri dalam ayat-ayat Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah sebagai alasan logis bagi rumusan suatu hukum yang berorientasi kepada kemaslahatan umat manusia.
Kemudian Wahbah al-Zuhaili mengatakan bahwa maqasid syariah adalah nilai-nilai dan sasaran syariat yang tersirat dalam segenap atau bagian terbesar dari hukum-hukumnya. Nilai-nilai dan sasaran-sasaran itu dipandang sebagai tujuan dan rahasia syariah, yang ditetapkan oleh al-syari’ dalam setiap ketentuan hukum. Asy-Syatibi menjelaskan bahwa tujuan ditetapkannya hukum Allah adalah untuk kemaslahatan manusia.
Syariat adalah hukum yang ditetapkan oleh Allah bagi hamba-Nya tentang urusan agama. Atau, hukum agama yang ditetapkan dan diperintahkan oleh Allah. Baik berupa ibadah (shaum, shalat, haji, zakat, dan seluruh amal kebaikan) atau muamalah yang menggerakkan kehidupan manusia (jual-beli, nikah, dll). Allah berfirman:
ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَى شَرِيعَةٍ مِنَ الأمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الَّذِينَ لا يَعْلَمُونَ (١٨)
Artinya: “Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), Maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.” (QS. Al-jatsiyah: 18).
Kata syariat berasal dari “syara’a as-syai” dengan arti menjelaskan sesuatu. Atau, ia diambil dari “asy-syir’ah” dan “asy-syari’ah” dengan arti tempat sumber air yang tidak pernah terputus dan orang datang ke sana tidak memerlukan adanya alat.
Menurut Yusuf Qaradhawi bahwa fiqih maqasid syari’ah adalah “bapak” dari seluruh fiqih-fiqih yang ada. Karena, fiqih maksud-maksud syariat berenang ke dalam makna, rahasia, dan hikmah yang ada di dalam teks, bukan jumud di depan bentuk dan lafadz teks, dengan melupakan maksud yang ada di belakangnya.
Ulama Ushul Fiqih mendefinisikan maqasid syariah dengan makna dan tujuan yang dikehendaki syara’ dalam mensyari’atkan suatu hukum bagi kemashlahatan umat manusia. Maqasid syariah di kalangan ulama ushul fiqih disebut juga asrar al-syari’ah, yaitu rahasia-rahasia yang terdapat di balik hukum yang ditetapkan oleh syara’, berupa kemashlahatan bagi manusia, baik di dunia maupun di akhirat (Wibowo, 2012: 1).
Menurut ‘Allal Al-Fasiy sebagaimana yang dikutip oleh Nursidin (2012: 8-9), maqasid syariah adalah: Tujuan yang dikehendaki syara’ dan rahasia-rahasia yang ditetapkan oleh Syâri’ (Allah) pada setiap hukum. Adapun inti dari maqashid syari’ah adalah untuk mewujukan kebaikan sekaligus menghindarkan keburukan, atau menarik manfaat dan menolak mudharat, atau dengan kata lain adalah untuk mencapai kemaslahatan, karena tujuan penetapan hukum dalam Islam adalah untuk menciptakan kemaslahatan dalam rangka memelihara tujuan-tujuan syara’.
Maksud-maksud syariat adalah tujuan yang menjadi target teks dan hukum-hukum partikular untuk direalisasikan dalam kehidupan manusia. Baik berupa perintah, larangan, dan mubah. Untuk individu, keluarga, jama’ah, dan unsur. Maksud-maksud juga bisa disebut dengan hikmah-hikmah yang menjadi tujuan ditetapkannya hukum. Baik yang diharuskan ataupun tidak. Karena, dalam setiap hukum yang disyariatkan oleh Allah untuk hamba-Nya pasti terdapat hikmah. Ia bisa diketahui oleh orang yang mengetahuinya dan tidak diketahui oleh orang yang tidak mengetahuinya. Karena, Allah suci untuk membuat syariat yang sewenang-wenang, sia-sia, atau kontradiksi dengan sebuah hukum (Qaradhawi, 2006: 18).
Tujuan Syariah
Menurut Jumantoro & Amin (2009: 197) bahwa substansi maqasid syariah adalah kemaslahatan. Kemaslahatan dalam taklif Tuhan dapat berwujud dua bentuk. Pertama, dalam bentuk hakiki, yakni manfaat langsung dalam arti kausalitas. Kedua, dalam bentuk majazi, yakni bentuk yang merupakan sebab yang membawa kepada kemaslahatan. Kemaslahatan menurut Asy-Syatibi dapat dilihat dari dua sudut pandang, sebagai berikut.
Pertama, maqasid syari’ (tujuan Tuhan). Maqasid syariat dalam arti maqasid syari’, mengandung empat aspek, yaitu:
a.Tujuan awal dari syariat yakni kemaslahatan manusia di dunia dan akhirat.
b.Syariat sebagai sesuatu yang harus dipahami.
c.Syariat sebagai hukum taklif yang harus dilakukan.
d.Tujuan syariat adalah membawa manusia ke bawah naungan hukum.
Kedua, maqasid mukallaf (tujuan mukallaf). Kemaslahatan sebagai substansi maqasid syariah dapat terealisasikan apabila lima unsur pokok dapat diwujudkan dan dipelihara. Kelima unsur pokok itu adalah (1) agama (2) jiwa (3) keturunan (4) akal (5) harta. Dalam upaya mewujudkan dan memelihara kelima unsur pokok ini, Asy-Syatibi membagi kepada tiga tingkat maqasid syariah atau tujuan syariah, yaitu:
a.Maqasid dharuriyat, dimaksudkan untuk memelihara lima unsur pokok dalam kehidupan manusia.
b.Maqasid hajjiyat, dimaksudkan untuk menghilangkan kesulitan atau menjadikan pemeliharaan terhadap kelima unsur pokok menjadi lebih baik.
c.Maqasid tahsiniyah, dimaksudkan agar manusia dapat melakukan yang terbaik untuk penyempurnaan pemeliharaan kelima unsur pokok.
Abu Ishaq al-Syatibi dalam Effendi & Zein (2014: 233) melaporkan hasil penelitian para ulama terhadap ayat-ayat Al-Qur’an dan Sunnah bahwa hukum-hukum disyariatkan Allah untuk mewujudkan kemaslahatan umat manusia, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Kemaslahatan yang akan diwujudkan itu menurut al-Syatibi terbagi kepada tiga tingkatan, yaitu kebutuhan dharuriyat, kebutuhan hajiyyat, dan kebutuhan tahsiniyat.
a.Kebutuhan Dharuriyat
Kebutuhan dharuriyat ialah tingkat kebutuhan yang harus ada atau disebut dengan kebutuhan primer. Bila tingkat kebutuhan ini tidak terpenuhi, akan terancam keselamatan umat manusia baik di dunia maupun di akhirat kelak.
Menurut al-Syatibi sebagaimana dikutip oleh Effendi & Zein (2014: 234) bahwa ada lima hal yang termasuk dalam kategori ini, yaitu memelihara agama, memelihara jiwa, memelihara akal, memelihara kehormatan dan keturunan, serta memelihara harta. Untuk memelihara lima pokok inilah syariat Islam diturunkan. Setiap ayat hukum bila diteliti akan ditemukan alasan pembentukannya yang tidak lain adalah untuk memelihara lima pokok di atas. Misalnya, firman Allah dalam mewajibkan jihad:
وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلَّهِ فَإِنِ انْتَهَوْا فَلا عُدْوَانَ إِلا عَلَى الظَّالِمِينَ (١٩٣)
Artinya: “Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), Maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Baqarah: 193).
b.Kebutuhan Hajiyyat
Kebutuhan hajiyat ialah kebutuhan-kebutuhan sekunder, di mana bilamana tidak terwujud tidak sampai mengancam keselamatannya, namun akan mengalami kesulitan. Syariat Islam menghilangkan segala kesulitan itu. Adanya hukum rukhshah (keringanan) seperti dijelaskan Abd al-Wahhab Khallaf, adalah sebagai contoh dari kepedulian syariat Islam terhadap kebutuhan ini.
c.Kebutuhan Tahsiniyat
Kebutuhan tahsiniyat ialah tingkat kebutuhan yang apabila tidak terpenuhi tidak mengancam eksistensi salah satu dari lima pokok di atas dan tidak pula menimbulkan kesulitan. Tingkat kebutuhan ini berupa kebutuhan pelengkap, seperti dikemukakan al-Syatibi, hal-hal yang merupakan kepatuhan menurut adat istiadat, menghindarkan hal-hal yang tidak enak dipandang mata, dan berhias dengan keindahhan yang sesuai dengan tuntutan norma dan akhlak.
Menurut Effendi & Zein (2014: 236) bahwa dalam berbagai bidang kehidupan, seperti ibadat, mu’amalat, dan ‘uqubat. Allah telah mensyariatkan hal-hal yang berhubungan dengan kebutuhan tahsiniyat. Dalam lapangan ibadat, kata Abd Wahhab Khallaf, umpamanya Islam mensyariatkan bersuci baik dari najis atau dari hadas, baik pada badan maupun pada tempat dan lingkungan. Islam menganjurkan berhias ketika hendak ke masjid, menganjurkan memperbanyak ibadah sunnah.
Menurut Wibowo (2012: 16-19) bahwa untuk memperoleh gambaran yang utuh tentang peringkat maqasid syariah ini, berikut akan dijelaskan kelima pokok kemashlahatan berdasarkan kepada tingkat kepentingan atau kebutuhan masing-masing, yaitu:
a.Memelihara Agama (Hifd al-Din)
Memelihara agama, berdasarkan kepentingannya dapat dibedakan menjadi tiga tingkatan:
1.Memelihara agama dalam tingkatan dharuriyah, yaitu memelihara dan melaksanakan kewajiban keagamaan yang termasuk tingkat primer, seperti melaksanakan shalat lima waktu. Jika kewajiban ini diabaikan maka eksistensi agama akan terancam.
2.Memelihara agama dalam tingkatan hajiyyat, yaitu melaksanakan ketentuan agama dengan maksud menghindarkan dari kesulitan. Seperti pensyari’atan shalat jamak dan qasar bagi orang yang sedang bepergian. Jika ketentuan ini tidak dilaksanakan maka tidak akan mengancam eksistensi agama, melainkan hanya mempersulit orang yang melakukannya.
3.Memelihara agama dalam tingkatan tahsiniyyat, yaitu mengikuti petunjuk agama guna menjunjung tingggi martabat manusia sekaligus menyempurnakan pelaksanaan kewajiban kepada tuhan.
b.Memelihara Jiwa (Hifd al-Nafs)
Memelihara jiwa berdasarkan kepentingannya, dapat dibedakan menjadi tiga tingkatan:
1.Memelihara agama dalam tingkatan dharuriyyat, seperti pensyari’atan kewajiban memenuhi kebutuhan pokok berupa makanan untuk mempertahankan hidup. Jika kebutuhan pokok itu diabaikan maka akan berakibat terancamnya eksistensi jiwa manusia.
2.Memelihara jiwa dalam tingkatan hajiyyat, seperti dibolehkan berburu dan menikmati makanan yang halal dan bergizi. Jika ketentuan ini diabaikan maka tidak akan mengancam eksistensi manusia, melainkan hanya akan mempersulit hidupnya.
3.Memelihara jiwa dalam tingkatan tahsiniyyat, seperti disyari’atkannya aturan tata cara makan dan minum. Ketentuan ini hanya berhubungan dengan etika atau kesopanan. Jika diabaikan, maka tidak akan mengancam eksistensi jiwa manusia, ataupun mempersulit kehidupan seseorang.
c.Memelihara Akal (Hifd al-‘Aql)
Memelihara akal, dilihat dari kepentingannya dapat dibedakan menjadi tiga tingkatan:
1.Memelihara akal dalam tingkatan dharuriyyat, seperti diharamkan mengkonsumsi minuman yang memabukkan (minuman keras). Jika ketentuan ini tidak diindahkan maka akan berakibat terancamnya eksistensi akal.
2.Memelihara akal dalam tingkatan hajiyyat, seperti anjuran menuntut ilmu pengetahuan. Sekiranya aktivitas ini tidak dilakukan maka tidak akan merusak akal, namun akan mempersulit diri seseorang, terutama dalam kaitannya dengan pengembangan ilmu pengetahuan.
3.Memelihara akal dalam tingkatan tahsiniyyat, seperti menghindarkan diri dari menghayal atau mendengarkan sesuatu yang tidak berguna. Hal ini berkaitan dengan etika, tidak akan mengancam eksistensi akal secara langsung.
d.Memelihara Keturunan (Hifd al-Nasl)
Memelihara keturunan, ditinjau dari segi tingkat kebutuhannya, dapat dibedakan menjadi tiga tingkat:
1.Memelihara keturunan dalam tingkat dharuriyyat, seperti pensyari’atan hokum perkawinan dan larangan melakukan perzinaan. Apabila ketentuan ini diabaikan maka eksistensi keturunan akan terancam.
2.Memelihara keturunan dalam tingkatan hajiyyat, seperti ditetapkannya ketentuan menyebutkan mahar bagi suami pada saat akad nikah dan diberikan hak talak padanya. Jika mahar tidak disebutkan, maka suami akan mengalami kesulitan, karena ia harus membayar mahar misl. Sedangkan dalam kasus talak, suami akan mengalami kesulitan, jika ia tidak menggunakan hak talaknya, padahal situasi dan kondisi rumah tangga tidak harmonis.
3.Memelihara keturunan dalam tingkatan tahsiniyyat, seperti disyari’atkan khitbah atau walimah dalam perkawinan. Hal ini dilakukan dalam rangka menyempurnakan kegiatan perkawinan. Jika ia diabaikan tidak akan mengancam eksistensi keturunan, dan tidak pula akan mempersulit orang yang melakukan perkawinan, ia hanya berkaitan dengan etika atau martabat seseorang.
e.Memelihara Harta (Hifd al-Maal)
Dilihat dari segi kepentingannya, memelihara harta dapat dibedakan menjadi tiga tingkatan, yaitu:
1.Memelihara harta dalam tingkatan dharuriyyat, seperti pensyari’atan aturan kepemilikan harta dan larangan mengambil harta orang lain dengan cara yang illegal. Apabila aturan ini dilanggar maka akan berakibat terancamnya eksistensi harta.
2.Memelihara harta dalam tingkatan hajiyyat, seperti disyari’atkannya jual beli dengan cara salam. Apabila cara ini tidak dipakai maka tidak akan mengancam eksistensi harta melainkan hanya akan mempersulit seseorang yang memerlukan modal.
Memelihara harta dalam tingkatan tahsiniyyat, seperti adanya ketentuan agar menghindarkan diri dari penipuan. Karena hal iitu berkaitan dengan moral dan etika dalam bermuamalah atau etika bisnis. Hal ini juga akan berpengaruh kepada keabsahan jula beli tersebut, sebab pada tingkatan ketiga ini juga merupakan syarat adanya tingkatan kedua dan pertama.

Oleh : Fajar Romadhon (Kadept Kaderisasi KAMMI Bandung 2016-2018)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*