Makna Toleransi Beragama bagi Seorang Muslim

Suatu ketika Rosulullah didatangi oleh orang-orang kafir Quraisy yang merasa dakwah Rosulullah mulai mengancam kepentingan-kepentingan mereka. Mereka lantas mendatangi Abu Tholib untuk meminta melobby Rosulullah menanyakan apa sebenarnya yang Rosulullah inginkan. Karena mereka mengira Rosulullah menginginkan harta, tahta, dan wanita. Maka mereka datang lewat Abu Tholib untuk membujuk Rosulullah menghentikan dakwahnya dengan menawarkan harta sehingga Rosulullah menjadi orang terkaya di makkah, dan menawarkan tahta sehingga beliau menjadi orang yang paling tinggi kedudukannya, dan menawarkan wanita manapun yang Rosulullah inginkan. Lalu ternyata tawaran itu ditolak mentah mentah oleh Rosulullah dan dijawab dengan tegas “Seandainya matahari diletakan ditangan kananku dan bulan diletakan ditangan kiriku, niscaya saya tidak akan meninggalkan dakwah sampai allah memenangkanku atau mati didalamnya”.

Mereka tidak berhasil mempengaruhi Rosulullah untuk meninggalkan dakwahnya, tetapi mereka tidak kehilangan akal dan mencoba menyimpangkan ajarannya dengan menawarkan tawaran untuk mencampurkan ajaran mereka dengan ajaran Islam. Mereka berkata “ Ya Rosulullah bagaimana kalau kami menyembah tuhannya engkau selama 1 tahun dan engkau menyembah tuhannya kami selama 1 tahun “. Saat itulah menjadi sebab turunnya surat Al Kafirun. Maka turun surat alkafirun yang berisi tentang prinsip seorang muslim, bahwasanya seorang muslim tidak menyembah apa yang disembah oleh orang-orang kafir dan sebaliknya orang kafirpin tidak menyembah apa yang disembah oleh orang-orang muslim. dan ayat terakhir merupakan prinsip toleransi dari seorang muslim “lakum diinukum waliyadiin”. Bagimu agamamu bagiku agamaku.

Saat ini yang sedang hangat diperbincangkan ialah mengenai makna dari toleransi. Toleransi bukanlah mengajak orang lain dengan apa yang kita yakini. Karena mengajak orang lain dengan apa yang kita yakini merupaka arti dari dakwah. Begitu pun juga ketika mengajak orang-orang diluar islam untuk mengenal islam, mengetahui islam maka itu dinamakan mengajak atau dikenal dengan dakwah, bukan toleransi.

Apa itu toleransi ? Toleransi sesungguhnya ialah membiarkan apa yang mereka yakini tanpa kita ikut campur dengannya. Jadi lebih kepada bagaimana sikap kita kepada orang lain bukan memaksa orang lain mengikuti kita. Maka aneh jika dikatakan bahwa toleransi orang orang islam kepada nasrani dengan mengikuti perayaan natal, atau memakai atribut-atribut yang mereka pakai atau mengucapkan selamat kepada mereka. Ini bukan merupakan toleransi, tetapi ini seperti yang dijelaskan pada asbabun nuzulnya surat alkafirun yaitu mencampur adukan ajaran antara hak dan batil. Toleransi seorang muslim yaitu meyakini bahwa allah itu satu, dan tidak meminta orang lain yang bukan muslim meyakini bahwa allah itu satu, dan membiarkan orang lain yang pemahaman mereka. Jadi Toleransi adalah membiarkan apa yang mereka yakini tanpa kita ikut campur dengannya. Ketika menyangkut masalah akidah lain maka orang islam haram mengikuti ibadah dari akidah orang lain. Mereka merayakan Natal, itu merupakan ibadah dari Nasrasi, dan kita tidak boleh merayakannya. Sebab lakum dinukum waliyadin.

Mungkin akan ada yang mengatakan, “Tapi itukan cuma kata-kata”. Kalau kita bicara tentang kata-kata, semua juga kata-kata. Syahadat juga kata-kata, ijab qobul juga kata-kata. Tetapi kata-kata itu punya konsekuensi atau akibat, misalnya syahadat maka orang tersebut telah dilabeli menjadi seorang muslim. Maka dari itu, kita tidak boleh memandang rendah kata-kata, karena ini berhubungan dengan akidah seseorang.

Lalu misalnya ada yang mengatakan “kita cuma ingin menghormati saja”. Penghormatan tidak harus dengan mengucapkan selamat, tidak harus dengan mengikuti, tidak harus dengan lebur dan larut kedalam perayaan agama orang lain. Tetapi membiarakan mereka melaksanakan ibadah ibadah mereka dan tidak mengganggu apa yang mereka lakukan itu merupakan penghormatan yang sebenarnya.

Dan bagaimana ketika kita seolah olah terpaksa harus mengucapkan supaya orang non-islam tidak tersinggung ?. Sebenarnya tidak ada kondisi yang mengharuskan kita mengucapkannya karena akan ada selalu ada jalan bagi orang orang yang ingin mencarinya, Insya Allah. Dan ketika mereka merasa tersinggung karena kita tidak mau mengucapkan selamat kepada mereka pada hari raya mereka. Biarkan saja dan beri penjelasan karena itu merupakan bagian dari lakum diinukum waliyadiin. Dan ketika mereka masih juga tersinggung berarti pertanyaannya siapa yang tidak toleransi.

Dan ingat, syaitan menggoda manusia sedikit demi sedikit, dan tanpa disadari kedepannya, aktifitas kita dengan aktifitas agama lain sudah tidak ada bedanya. Mereka melakukan ini, kitapun melakukan ini. Jadi seolah sama saja antara memeluk agama islam dengan agama lain toh aktifitasnya tidak ada yang berbeda.

Maka bagi kaum muslimin toleransinya adalah lakumdiinukum waliadiin. Bagimu agamamu dan bagiku agamaku. Tidak perlu mengikuti ibadah yang mereka lakukan, dan merekapun tidak perlu mengikuti ibadah yang kita lalukan. Wallahu a’lam…

Oleh : Faizal Joyo (Staff Humas KAMMI Bandung 2016-2018)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*